wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

TES KONTEN TUTOR KE-3

Total questions: 60

Worksheet time: 58mins

Name
Class
Date
1.

SINONIM

DISPARITAS

a)

Persamaan

b)

Perbedaan

c)

Kejelasan

d)

Perbandingan

e)

Kesamaan

2.

SINONIM

EVOKASI

a)

Provokasi

b)

Perkataan yang jelas

c)

Perbaikan

d)

Penggugah rasa

e)

Pemisahan

3.

SINONIM

FRAGMEN

a)

Cuplikan

b)

Keseluruhan

c)

Kisah

d)

Drama

e)

Bagian dari opera

4.

SINONIM

ABOLISI

a)

Penambahan

b)

Penghapusan

c)

Keringanan

d)

Pengurangan

e)

Penyeimbangan

5.

SINONIM

ELABORASI

a)

Kontrak

b)

Penjelasan terperinci

c)

Penggarapan secara tekun

d)

Kesimpulan pengamatan

e)

Keputusan bersama

6.

ANTONIM

PREMAN >< . . . . . .

a)

Pengawal

b)

Sendiri

c)

Dinas

d)

Mafia

e)

Partikelir

7.

ANTONIM

CHAOS >< . . . . . .

a)

Normal

b)

Hancur

c)

Agama

d)

Kacau

e)

Labil

8.

ANTONIM

GRATIFIKASI >< . . . . . .

a)

Revisi

b)

Denda

c)

Bonus

d)

Hadiah

e)

Potongan

9.

ANTONIM

ULTIMA >< . . . . . .

a)

Kesan

b)

Akhir

c)

Final

d)

Awal

e)

Biasa

10.

ANTONIM

KAPABEL >< . . . . . .

a)

Rajin

b)

Piawai

c)

Mampu

d)

Bodoh

e)

Pandai

11.

ANALOGI

GEMPA : RICHTER = :

a)

Ombak : Knot

b)

Jarak : Dinamo

c)

Obat : Dosis

d)

Suhu : Fahrenheit

e)

Banjir : Air

12.

ANALOGI

SEPATU : JALAN = :

a)

Buku : Baca

b)

Pensil : Makan

c)

Sisir : Rambut

d)

Garpu : Makan

e)

Sandal : Jepit

13.

ANALOGI

REKAN : RIVAL = :

a)

Pendukung : Penghambat

b)

Dermawan : Serakah

c)

Dokter : Pasien

d)

Adat : Istiadat

e)

Tradisional : Kontemporer

14.

ANALOGI

AIR: ES = UAP:

a)

Salju

b)

Es

c)

Air

d)

Hujan

e)

Embun

15.

ANALOGI

BAIT : PUISI = :

a)

bendera : lagu kebangsaan

b)

loteng : bangunan

c)

sajak : prosa

d)

hiasan dinding : lukisan

e)

rumah : keluarga

16.

Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?

a)

Nike

b)

Adidas

c)

Reebok

d)

Puma

e)

Samsung

17.

Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?

a)

Tenggara

b)

Selatan

c)

Barat

d)

Timur

e)

Kiblat

18.

Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?

a)

Rupiah

b)

Rupee

c)

Ringgit

d)

Peso

e)

Ankara

19.

Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?

a)

Dingin

b)

Semi

c)

Gugur

d)

Durian

e)

Kemarau

20.

Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?

a)

Gandum

b)

Kaldu

c)

Telur

d)

Gula

e)

Margarin

21.

Teks 2

Teks 2

Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.

Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:

(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.

Makna kata yang identik dengan kata “publik” dalam kata “manajemen pe-layanan publik” adalah ....

a)

Rombongan

b)

Orang banyak

c)

Umum

d)

Warganegara

e)

Negara

22.

Teks 2

Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.

Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:

(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.

Menurut penulis buku tersebut di atas, sebagian besar organisasi publik di Indonesia memiliki budaya caring, hal ini dicirikan dengan hal-hal di bawah ini kecuali ....

a)

Menolak tantangan

b)

Menghindari tanggung jawab

c)

Tidak suka berkreasi

d)

Tidak suka berinovasi

e)

Mementingkan kepentingan klien

23.

Teks 2

Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.

Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:

(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.

Pernyataan tentang apathetic culture di bawah ini yang tidak benar adalah .....

a)

Perhatian anggota organisasi ter- hadap hubungan antarmanusia rendah

b)

Perhatian anggota organisasi terhadap kinerja pelaksanaan tugas rendah

c)

Penghargaan diberikan terutama berdasarkan permainan politik

d)

Penghargaan diberikan teruta- ma berdasarkan pemanipulasian orang-orang lain

e)

Penghargaan diberikan terutama berdasarkan intuisi pimpinan

24.

Teks 2

Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.

Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:

(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.

Pernyataan tentang caring culture di bawah ini yang tidak benar adalah .....

a)

Perhatian anggota organisasi ter- hadap hubungan antarmanusia tinggi

b)

Perhatian anggota organisasi ter- hadap kinerja pelaksanaan tugas rendah

c)

Penghargaan diberikan terutama berdasarkan kinerja pelaksanaan tugas

d)

Penghargaan diberikan terutama berdasarkan kepaduan tim

e)

Penghargaan diberikan terutama berdasarkan harmoni

25.

Teks 2

Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.

Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:

(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.

Makna kata “diadopsi” dalam paragraf di atas adalah…

a)

Diterima dan dikembangkan

b)

Diambil anak

c)

Dipungut anak

d)

Kecanduan

e)

Kultur kinerja

26.

DERET/POLA BILANGAN

3 6 7 9 12 14 15 18 .….

a)

20

b)

22

c)

24

d)

26

e)

28

27.

DERET/POLA BILANGAN

19 15 22 18 25 21 28 …

a)

22 dan 29

b)

23 dan 30

c)

24 dan 31

d)

25 dan 32

e)

26 dan 33

28.

DERET/POLA BILANGAN

21 31 40 ….. 55 61 66 ….. 73

a)

46 dan 68

b)

47 dan 69

c)

48 dan 70

d)

49 dan 71

e)

50 dan 72

29.

DERET/POLA BILANGAN

39 3 33 6 27 9 .... ....

a)

25 dan 10

b)

24 dan 11

c)

23 dan 11

d)

22 dan 12

e)

21 dan 12

30.

DERET/POLA BILANGAN

11 18 27 .... 51 ....

a)

38 dan 66

b)

43 dan 68

c)

46 dan 70

d)

48 dan 71

e)

50 dan 74

31.
  1. Tentukan nilai X pada kolom berikut ini!

a)

1

b)

4

c)

16

d)

64

e)

256

32.
  1. Tentukan nilai X!

a)

1

b)

8

c)

14

d)

22

e)

29

33.
  1. Tentukan nilai X!

a)

8

b)

9

c)

10

d)

11

e)

12

34.
  1. Tentukan nilai X pada gambar di bawah!

a)

51

b)

70

c)

80

d)

90

e)

95

35.
  1. Perhatikan gambar tersebut dan isilah yang kosong!

a)

40

b)

42

c)

44

d)

46

e)

48

36.

Dari persamaan berikut, 3x + 6 = 18 – 3y

maka nilai x = …

a)

6 + y

b)

3 – 2y

c)

4 – y

d)

Y + 1

e)

4 + y

37.

(70 – 30) x 15% = …

a)

60

b)

6

c)

80

d)

25

e)

10

38.

a)

1,25%

b)

12,5%

c)

0,125%

d)

0,0125%

e)

0,00125%

39.

Dalam 30 hari terdapat … jam.

a)

180 jam

b)

720 jam

c)

360 jam

d)

160 jam

e)

300 jam

40.

33 + x³ = 49 – x³ maka nilai x adalah …

a)

3

b)

17

c)

2

d)

1

e)

5

41.

Skala pada peta 4 : 1.000.000. Jika jarak antara Kota A dan kota B pada peta 24 cm. Berapa jarak sesungguhnya kedua kota tersebut?

a)

26 km

b)

30 km

c)

45 km

d)

50 km

e)

60 km

42.

Ibu merencanakan membeli piring dan gelas. Jumlah kedua macam barang tersebut 63 buah dan jumlah gelas adalah enam kali lebih banyak dari jumlah piring. Berapakah jumlah gelas yang akan dibeli Ibu?

a)

19

b)

23

c)

30

d)

41

e)

54

43.
  1. Toko rezeki mempunyai stok gandum yang disimpan di empat tempat, masing-masing menyimpan beras sebanyak 700 kg, 4,9 ton, 3 ton dan 1.900 kg. Gandum-gandum tersebut akan dipindahkan dengan menggunakan truk yang mempunyai daya angkut 2⅒ ton. Berapa kalikah truk tersebut harus mengangkut gandum-gandum tersebut hingga semuanya terangkut?

a)

2 kali

b)

3 kali

c)

4 kali

d)

5 kali

e)

6 kali

44.

Umur rata-rata dari suatu kelompok yang terdiri atas siswa dan guru ada- lah 25 tahun. Jika umur rata-rata siswa adalah 17 tahun dan umur rata-rata guru adalah 41 tahun. Berapakah per- bandingan banyaknya umur siswa dan umur guru?

a)

1 : 2

b)

1 : 3

c)

2 : 5

d)

2 : 7

e)

3 : 1

45.

Seorang pedagang membeli gula 5 karung, masing-masing beratnya 1 kuintal. Harga setiap karung Rp100.000,00. Jika gula itu dijual dengan harga Rp1.500,00 tiap kilogram, besar keuntungannya adalah...

a)

Rp220.000,00

b)

Rp235.000,00

c)

Rp240.000,00

d)

Rp245.000,00

e)

Rp250.000,00

46.

Jika udara tidak tercemar maka rumah segar. Jika rumah segar maka kupu-kupu bertelur.

a)

Jika udara tercemar maka kupu- kupu bertelur.

b)

Jika udara tidak tercemar maka kupu-kupu bertelur.

c)

Jika udara tidak tercemar maka kupu-kupu tidak bertelur.

d)

Jika udara tidak tercemar maka bukan kupu-kupu bertelur.

e)

Jika bukan udara yang tercemar maka kupu-kupu tidak bertelur

47.

Semua siswa mengikuti kegiatan Pramuka. Sebagian siswa mengikuti pembinaan olimpiade sains.

a)

Sebagian siswa yang mengikuti pembinaan olimpiade sains tidak mengikuti kegiatan Pramuka.

b)

Sebagian siswa yang mengikuti Pramuka juga mengikuti pembi- naan olimpiade sains.

c)

Semua siswa yang mengikuti Pra- muka juga mengikuti pembinaan olimpiade sains.

d)

Semua siswa tidak mengikuti pem- binaan olimpiade sains dan ke- giatan Pramuka.

e)

Semua siswa mengikuti kegiatan Pramuka dan pembinaan olimpia- de sains.

48.

Semua palang adalah kayu. Beberapa kayu sangat berat

a)

Semua palang sangat berat.

b)

Semua kayu adalah palang.

c)

Sebagian palang bukan kayu.

d)

Semua yang sangat berat adalah palang.

e)

Sebagian yang sangat berat bukan palang

49.

Semua pelaut adalah perenang. Sebagian perenang bukan penyelam.

Simpulan yang tepat adalah ...

a)

Semua penyelam adalah pelaut

b)

Sebagian pelaut bukan penyelam

c)

Sebagian penyelam bukan perenang

d)

Semua pelaut adalah penyelam

e)

Semua penyelam bukan pelaut

50.

Makhluk laut yang bernapas dengan insang adalah ikan.

Lumba-lumba adalah makhluk laut yang bernapas dengan paru-paru.

Simpulan yang tepat adalah ...

a)

Semua lumba-lumba termasuk jenis ikan yang hidup di laut

b)

Semua lumba-lumba dan ikan adalah makhluk yang hidup di laut

c)

Sebagian lumba-lumba termasuk jenis ikan yang hidup di laut

d)

Semua ikan termasuk jenis lumba-lumba yang hidup di laut

e)

Sebagian ikan termasuk jenis lumba-lumba yang hidup di laut

51.

Seorang calon legislatif melakukan kampanye pada lima kecamatan, yaitu J, K, L, M, dan N dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Ia dapat berkunjung ke kecamatan M jika telah ke L dan N

(2) Ia tidak bisa mengunjungi kecamatan N sebelum mengunjungi kecamatan J

(3) Kecamatan kedua yang harus dikunjungi adalah K

Kecamatan yang pertama harus dikunjungi adalah ...

a)

Kecamatan J

b)

Kecamatan K

c)

Kecamatan L

d)

Kecamatan M

e)

Kecamatan N

52.

Seorang calon legislatif melakukan kampanye pada lima kecamatan, yaitu J, K, L, M, dan N dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Ia dapat berkunjung ke kecamatan M jika telah ke L dan N

(2) Ia tidak bisa mengunjungi kecamatan N sebelum mengunjungi kecamatan J

(3) Kecamatan kedua yang harus dikunjungi adalah K

Dua kecamatan dapat dikunjungi setelah kecamatan N adalah ...

a)

Kecamatan J dan K

b)

Kecamatan L dan M

c)

Kecamatan M dan J

d)

Kecamatan N dan K

e)

Kecamatan K dan L

53.

Seorang calon legislatif melakukan kampanye pada lima kecamatan, yaitu J, K, L, M, dan N dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Ia dapat berkunjung ke kecamatan M jika telah ke L dan N

(2) Ia tidak bisa mengunjungi kecamatan N sebelum mengunjungi kecamatan J

(3) Kecamatan kedua yang harus dikunjungi adalah K

Rencana kunjungan yang sebaiknya dipilih agar lima kecamatan dapat dikunjungi adalah ...

a)

J, K, N, L, M

b)

K, J, L, N, M

c)

K, M, L, J, N

d)

L, K, J, N, M

e)

L, K, J, N, M

54.

Seorang karyawan mengatur 6 ruang kerja untuk 6 staf dengan urutan nomor ruang 1 sampai 6 dengan aturan sebagai berikut. (1) Bu Rati bercakap-cakap yang suaranya terdengar kelas di ruang sebelahnya (2) Pak Mara dan pak Bono ingin berdekatan agar dapat berkoordinasi (3) Bu Heni meminta ruang nomor 5 yang berjendela lebar. (4) Pak Dedi tidak suka pekerjaannya terganggu oleh suara-suara (5) Pak Tasman, Pak Mara, dan Pak Dedi adalah perokok (6) Bu Heni alergi asap rokok

Tiga karyawan perokok seharusnya ditempatkan di ruang nomor ...

a)

1, 2, dan 4

b)

2, 3, dan 6

c)

1, 2, dan 3

d)

2, 3, dan 4

e)

1, 2, dan 6

55.

Seorang karyawan mengatur 6 ruang kerja untuk 6 staf dengan urutan nomor ruang 1 sampai 6 dengan aturan sebagai berikut. (1) Bu Rati bercakap-cakap yang suaranya terdengar kelas di ruang sebelahnya (2) Pak Mara dan pak Bono ingin berdekatan agar dapat berkoordinasi (3) Bu Heni meminta ruang nomor 5 yang berjendela lebar. (4) Pak Dedi tidak suka pekerjaannya terganggu oleh suara-suara (5) Pak Tasman, Pak Mara, dan Pak Dedi adalah perokok (6) Bu Heni alergi asap rokok

Ruang kerja yang paling cocok untuk Pak Mara adalah ruang nomor ...

a)

2

b)

6

c)

1

d)

3

e)

4

56.

Pada lima gambar di bawah ini manakah yang berbeda?

a)

b)

c)

d)

e)

57.
  1. Manakah yang sesuai untuk melengkapi gambar di atas?

a)

b)

c)

d)

e)

58.
  1. Pada lima gambar di bawah ini manakah yang berbeda?

a)

b)

c)

d)

e)

59.

Pada lima gambar di bawah ini manakah yang berbeda?

a)

b)

c)

d)

e)

60.
  1. Manakah gambar yang tepat untuk melengkapi deretan gambar di atas?

a)

b)

c)

d)

e)