NEW
Font size
WorksheetsTES KONTEN TUTOR KE-3
Total questions: 60
Worksheet time: 58mins
SINONIM
DISPARITAS
Persamaan
Perbedaan
Kejelasan
Perbandingan
Kesamaan
SINONIM
EVOKASI
Provokasi
Perkataan yang jelas
Perbaikan
Penggugah rasa
Pemisahan
SINONIM
FRAGMEN
Cuplikan
Keseluruhan
Kisah
Drama
Bagian dari opera
SINONIM
ABOLISI
Penambahan
Penghapusan
Keringanan
Pengurangan
Penyeimbangan
SINONIM
ELABORASI
Kontrak
Penjelasan terperinci
Penggarapan secara tekun
Kesimpulan pengamatan
Keputusan bersama
ANTONIM
PREMAN >< . . . . . .
Pengawal
Sendiri
Dinas
Mafia
Partikelir
ANTONIM
CHAOS >< . . . . . .
Normal
Hancur
Agama
Kacau
Labil
ANTONIM
GRATIFIKASI >< . . . . . .
Revisi
Denda
Bonus
Hadiah
Potongan
ANTONIM
ULTIMA >< . . . . . .
Kesan
Akhir
Final
Awal
Biasa
ANTONIM
KAPABEL >< . . . . . .
Rajin
Piawai
Mampu
Bodoh
Pandai
ANALOGI
GEMPA : RICHTER = :
Ombak : Knot
Jarak : Dinamo
Obat : Dosis
Suhu : Fahrenheit
Banjir : Air
ANALOGI
SEPATU : JALAN = :
Buku : Baca
Pensil : Makan
Sisir : Rambut
Garpu : Makan
Sandal : Jepit
ANALOGI
REKAN : RIVAL = :
Pendukung : Penghambat
Dermawan : Serakah
Dokter : Pasien
Adat : Istiadat
Tradisional : Kontemporer
ANALOGI
AIR: ES = UAP:
Salju
Es
Air
Hujan
Embun
ANALOGI
BAIT : PUISI = :
bendera : lagu kebangsaan
loteng : bangunan
sajak : prosa
hiasan dinding : lukisan
rumah : keluarga
Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?
Nike
Adidas
Reebok
Puma
Samsung
Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?
Tenggara
Selatan
Barat
Timur
Kiblat
Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?
Rupiah
Rupee
Ringgit
Peso
Ankara
Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?
Dingin
Semi
Gugur
Durian
Kemarau
Mana yang tidak masuk dalam kelompoknya?
Gandum
Kaldu
Telur
Gula
Margarin
Teks 2
Teks 2
Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.
Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:
(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.
Makna kata yang identik dengan kata “publik” dalam kata “manajemen pe-layanan publik” adalah ....
Rombongan
Orang banyak
Umum
Warganegara
Negara
Teks 2
Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.
Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:
(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.
Menurut penulis buku tersebut di atas, sebagian besar organisasi publik di Indonesia memiliki budaya caring, hal ini dicirikan dengan hal-hal di bawah ini kecuali ....
Menolak tantangan
Menghindari tanggung jawab
Tidak suka berkreasi
Tidak suka berinovasi
Mementingkan kepentingan klien
Teks 2
Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.
Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:
(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.
Pernyataan tentang apathetic culture di bawah ini yang tidak benar adalah .....
Perhatian anggota organisasi ter- hadap hubungan antarmanusia rendah
Perhatian anggota organisasi terhadap kinerja pelaksanaan tugas rendah
Penghargaan diberikan terutama berdasarkan permainan politik
Penghargaan diberikan teruta- ma berdasarkan pemanipulasian orang-orang lain
Penghargaan diberikan terutama berdasarkan intuisi pimpinan
Teks 2
Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.
Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:
(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.
Pernyataan tentang caring culture di bawah ini yang tidak benar adalah .....
Perhatian anggota organisasi ter- hadap hubungan antarmanusia tinggi
Perhatian anggota organisasi ter- hadap kinerja pelaksanaan tugas rendah
Penghargaan diberikan terutama berdasarkan kinerja pelaksanaan tugas
Penghargaan diberikan terutama berdasarkan kepaduan tim
Penghargaan diberikan terutama berdasarkan harmoni
Teks 2
Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collons dan Mc Laughlin 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu (a) aphetic culture; (b) caring culture; (c) exacting culture; dan integrative culture. Dalam tipa apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antarmanusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah. Disini penghargaan di berikan terutama berdasarkan permainan, politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi caring culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antarmanusia. Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis, pengharagaan sangat memuaskan, tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integratif maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.
Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe caring. Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antarmanusia. Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:
(a) lebih mementingkan kepentingan atau pengguna jasa; (b) lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat; (c) meminimalkan risiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab; (e) menolak tantangan; dan (f) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Budaya caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460) Sumber : Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.
Makna kata “diadopsi” dalam paragraf di atas adalah…
Diterima dan dikembangkan
Diambil anak
Dipungut anak
Kecanduan
Kultur kinerja
DERET/POLA BILANGAN
3 6 7 9 12 14 15 18 .….
20
22
24
26
28
DERET/POLA BILANGAN
19 15 22 18 25 21 28 …
22 dan 29
23 dan 30
24 dan 31
25 dan 32
26 dan 33
DERET/POLA BILANGAN
21 31 40 ….. 55 61 66 ….. 73
46 dan 68
47 dan 69
48 dan 70
49 dan 71
50 dan 72
DERET/POLA BILANGAN
39 3 33 6 27 9 .... ....
25 dan 10
24 dan 11
23 dan 11
22 dan 12
21 dan 12
DERET/POLA BILANGAN
11 18 27 .... 51 ....
38 dan 66
43 dan 68
46 dan 70
48 dan 71
50 dan 74
Tentukan nilai X pada kolom berikut ini!
1
4
16
64
256
Tentukan nilai X!
1
8
14
22
29
Tentukan nilai X!
8
9
10
11
12
Tentukan nilai X pada gambar di bawah!
51
70
80
90
95
Perhatikan gambar tersebut dan isilah yang kosong!
40
42
44
46
48
Dari persamaan berikut, 3x + 6 = 18 – 3y
maka nilai x = …
6 + y
3 – 2y
4 – y
Y + 1
4 + y
(70 – 30) x 15% = …
60
6
80
25
10
1,25%
12,5%
0,125%
0,0125%
0,00125%
Dalam 30 hari terdapat … jam.
180 jam
720 jam
360 jam
160 jam
300 jam
33 + x³ = 49 – x³ maka nilai x adalah …
3
17
2
1
5
Skala pada peta 4 : 1.000.000. Jika jarak antara Kota A dan kota B pada peta 24 cm. Berapa jarak sesungguhnya kedua kota tersebut?
26 km
30 km
45 km
50 km
60 km
Ibu merencanakan membeli piring dan gelas. Jumlah kedua macam barang tersebut 63 buah dan jumlah gelas adalah enam kali lebih banyak dari jumlah piring. Berapakah jumlah gelas yang akan dibeli Ibu?
19
23
30
41
54
Toko rezeki mempunyai stok gandum yang disimpan di empat tempat, masing-masing menyimpan beras sebanyak 700 kg, 4,9 ton, 3 ton dan 1.900 kg. Gandum-gandum tersebut akan dipindahkan dengan menggunakan truk yang mempunyai daya angkut 2⅒ ton. Berapa kalikah truk tersebut harus mengangkut gandum-gandum tersebut hingga semuanya terangkut?
2 kali
3 kali
4 kali
5 kali
6 kali
Umur rata-rata dari suatu kelompok yang terdiri atas siswa dan guru ada- lah 25 tahun. Jika umur rata-rata siswa adalah 17 tahun dan umur rata-rata guru adalah 41 tahun. Berapakah per- bandingan banyaknya umur siswa dan umur guru?
1 : 2
1 : 3
2 : 5
2 : 7
3 : 1
Seorang pedagang membeli gula 5 karung, masing-masing beratnya 1 kuintal. Harga setiap karung Rp100.000,00. Jika gula itu dijual dengan harga Rp1.500,00 tiap kilogram, besar keuntungannya adalah...
Rp220.000,00
Rp235.000,00
Rp240.000,00
Rp245.000,00
Rp250.000,00
Jika udara tidak tercemar maka rumah segar. Jika rumah segar maka kupu-kupu bertelur.
Jika udara tercemar maka kupu- kupu bertelur.
Jika udara tidak tercemar maka kupu-kupu bertelur.
Jika udara tidak tercemar maka kupu-kupu tidak bertelur.
Jika udara tidak tercemar maka bukan kupu-kupu bertelur.
Jika bukan udara yang tercemar maka kupu-kupu tidak bertelur
Semua siswa mengikuti kegiatan Pramuka. Sebagian siswa mengikuti pembinaan olimpiade sains.
Sebagian siswa yang mengikuti pembinaan olimpiade sains tidak mengikuti kegiatan Pramuka.
Sebagian siswa yang mengikuti Pramuka juga mengikuti pembi- naan olimpiade sains.
Semua siswa yang mengikuti Pra- muka juga mengikuti pembinaan olimpiade sains.
Semua siswa tidak mengikuti pem- binaan olimpiade sains dan ke- giatan Pramuka.
Semua siswa mengikuti kegiatan Pramuka dan pembinaan olimpia- de sains.
Semua palang adalah kayu. Beberapa kayu sangat berat
Semua palang sangat berat.
Semua kayu adalah palang.
Sebagian palang bukan kayu.
Semua yang sangat berat adalah palang.
Sebagian yang sangat berat bukan palang
Semua pelaut adalah perenang. Sebagian perenang bukan penyelam.
Simpulan yang tepat adalah ...
Semua penyelam adalah pelaut
Sebagian pelaut bukan penyelam
Sebagian penyelam bukan perenang
Semua pelaut adalah penyelam
Semua penyelam bukan pelaut
Makhluk laut yang bernapas dengan insang adalah ikan.
Lumba-lumba adalah makhluk laut yang bernapas dengan paru-paru.
Simpulan yang tepat adalah ...
Semua lumba-lumba termasuk jenis ikan yang hidup di laut
Semua lumba-lumba dan ikan adalah makhluk yang hidup di laut
Sebagian lumba-lumba termasuk jenis ikan yang hidup di laut
Semua ikan termasuk jenis lumba-lumba yang hidup di laut
Sebagian ikan termasuk jenis lumba-lumba yang hidup di laut
Seorang calon legislatif melakukan kampanye pada lima kecamatan, yaitu J, K, L, M, dan N dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Ia dapat berkunjung ke kecamatan M jika telah ke L dan N
(2) Ia tidak bisa mengunjungi kecamatan N sebelum mengunjungi kecamatan J
(3) Kecamatan kedua yang harus dikunjungi adalah K
Kecamatan yang pertama harus dikunjungi adalah ...
Kecamatan J
Kecamatan K
Kecamatan L
Kecamatan M
Kecamatan N
Seorang calon legislatif melakukan kampanye pada lima kecamatan, yaitu J, K, L, M, dan N dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Ia dapat berkunjung ke kecamatan M jika telah ke L dan N
(2) Ia tidak bisa mengunjungi kecamatan N sebelum mengunjungi kecamatan J
(3) Kecamatan kedua yang harus dikunjungi adalah K
Dua kecamatan dapat dikunjungi setelah kecamatan N adalah ...
Kecamatan J dan K
Kecamatan L dan M
Kecamatan M dan J
Kecamatan N dan K
Kecamatan K dan L
Seorang calon legislatif melakukan kampanye pada lima kecamatan, yaitu J, K, L, M, dan N dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Ia dapat berkunjung ke kecamatan M jika telah ke L dan N
(2) Ia tidak bisa mengunjungi kecamatan N sebelum mengunjungi kecamatan J
(3) Kecamatan kedua yang harus dikunjungi adalah K
Rencana kunjungan yang sebaiknya dipilih agar lima kecamatan dapat dikunjungi adalah ...
J, K, N, L, M
K, J, L, N, M
K, M, L, J, N
L, K, J, N, M
L, K, J, N, M
Seorang karyawan mengatur 6 ruang kerja untuk 6 staf dengan urutan nomor ruang 1 sampai 6 dengan aturan sebagai berikut. (1) Bu Rati bercakap-cakap yang suaranya terdengar kelas di ruang sebelahnya (2) Pak Mara dan pak Bono ingin berdekatan agar dapat berkoordinasi (3) Bu Heni meminta ruang nomor 5 yang berjendela lebar. (4) Pak Dedi tidak suka pekerjaannya terganggu oleh suara-suara (5) Pak Tasman, Pak Mara, dan Pak Dedi adalah perokok (6) Bu Heni alergi asap rokok
Tiga karyawan perokok seharusnya ditempatkan di ruang nomor ...
1, 2, dan 4
2, 3, dan 6
1, 2, dan 3
2, 3, dan 4
1, 2, dan 6
Seorang karyawan mengatur 6 ruang kerja untuk 6 staf dengan urutan nomor ruang 1 sampai 6 dengan aturan sebagai berikut. (1) Bu Rati bercakap-cakap yang suaranya terdengar kelas di ruang sebelahnya (2) Pak Mara dan pak Bono ingin berdekatan agar dapat berkoordinasi (3) Bu Heni meminta ruang nomor 5 yang berjendela lebar. (4) Pak Dedi tidak suka pekerjaannya terganggu oleh suara-suara (5) Pak Tasman, Pak Mara, dan Pak Dedi adalah perokok (6) Bu Heni alergi asap rokok
Ruang kerja yang paling cocok untuk Pak Mara adalah ruang nomor ...
2
6
1
3
4
Pada lima gambar di bawah ini manakah yang berbeda?
Manakah yang sesuai untuk melengkapi gambar di atas?
Pada lima gambar di bawah ini manakah yang berbeda?
Pada lima gambar di bawah ini manakah yang berbeda?
Manakah gambar yang tepat untuk melengkapi deretan gambar di atas?
