wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Perbaikan K3 Pertambangan

Total questions: 75

Worksheet time: 30mins

Name
Class
Date
1.
Apa yang dimaksud dengan Keselamatan Pertambangan dalam Keputusan Dirjen Minerba No. 185.K/30/DJB/2019?
a)
A. Pengelolaan keselamatan kerja dan operasional pertambangan
b)
B. Pengelolaan kesehatan pekerja di tambang
c)
C. Proses pengelolaan risiko untuk menghindari kecelakaan tambang
d)
D. Sistem pemeliharaan alat tambang
2.

Mengapa inspeksi rutin di area tambang sangat penting?

a)

A. Untuk mendeteksi potensi bahaya sebelum menimbulkan kecelakaan

b)

B. Agar laporan administrasi lengkap tanpa tindakan nyata

c)

C. Supaya pekerja merasa diawasi terus dan tidak melanggar

d)

D. Hanya sebagai formalitas perusahaan untuk audit

3.
Apa tujuan utama dari program manajemen risiko dalam K3 pertambangan?
a)
A. Mengurangi risiko kecelakaan dan meningkatkan keselamatan kerja
b)
B. Meningkatkan produktivitas pekerja
c)
C. Mengurangi biaya operasional perusahaan
d)
D. Mengoptimalkan proses pengolahan mineral
4.
Menurut peraturan, seberapa sering simulasi keadaan darurat harus dilakukan?
a)
A. Minimal 2x setahun
b)
B. Sekali dalam setahun
c)
C. Setiap bulan
d)
D. Setiap triwulan
5.
Apa yang harus dilakukan oleh KTT atau PTL jika ditemukan kondisi kerja yang berbahaya?
a)
A. Segera menghentikan kegiatan yang berpotensi mengakibatkan kecelakaan
b)
B. Melaporkannya kepada Inspektur Tambang
c)
C. Mendokumentasi kegiatan sampai evaluasi dilakukan
d)
D. Mengganti alat yang rusak tanpa menghentikan operasi
6.
Siapa yang bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan terhadap implementasi K3 di lapangan?
a)
A. Inspektur Tambang (IT)
b)
B. Kepala Teknik Tambang (KTT)
c)
C. Direktur Operasional
d)
D. Supervisor K3
7.
Langkah pertama dalam manajemen risiko di pertambangan adalah:
a)
A. Komunikasi dan konsultasi dengan pemangku kepentingan
b)
B. Penetapan standar keselamatan operasional
c)
C. Evaluasi risiko bahaya yang teridentifikasi
d)
D. Menyusun rencana tindakan pengendalian risiko
8.
Apa tujuan utama dari pendidikan dan pelatihan K3 bagi pekerja tambang?
a)
A. Meningkatkan kompetensi pekerja terhadap keselamatan kerja
b)
B. Memenuhi standar produktivitas perusahaan
c)
C. Mengurangi jam kerja pekerja di tambang
d)
D. Membuat semua pekerja sadar untuk menjaga kesehatan
9.
Apa kriteria yang digunakan untuk mengklasifikasikan kecelakaan tambang?
a)
A.    Jenis cedera dan dampaknya terhadap aktivitas kerja
b)
B.     Jumlah pekerja yang terluka
c)
C.     Jenis peralatan yang terlibat
d)
D.    Waktu kejadian kecelakaan
10.
Pemeriksaan kesehatan berkala wajib dilakukan setiap tahun untuk:
a)
A.    Pekerja tambang dan pekerja pengolahan/pemurnian
b)
B.     Semua pekerja yang berusia di atas 40 tahun
c)
C.     Supervisor tambang saja
d)
D.    Hanya bagi pekerja yang baru bekerja
11.
Langkah terakhir dalam penyelidikan kecelakaan tambang menurut Keputusan Dirjen Minerba adalah:
a)
A.    Evaluasi hasil penyelidikan dan tindak lanjut koreksi
b)
B.     Menghentikan operasi tambang
c)
C.     Melakukan investigasi ulang
d)
D.    Meningkatkan prosedur keselamatan kerja
12.
Apa yang menjadi dasar dalam menentukan program kesehatan kerja di tambang?
a)
A.    Hasil manajemen risiko dan evaluasi lingkungan kerja
b)
B.     Jumlah pekerja yang ada di lokasi tambang
c)
C.     Biaya yang dialokasikan untuk peralatan medis
d)
D.    Usia pekerja yang terlibat dalam proyek
13.
Jika terjadi kecelakaan tambang yang menyebabkan cacat tetap, bagaimana cara menghitung jumlah hari kerja yang hilang?
a)
A.    Berdasarkan jenis cedera dan anggota tubuh yang terkena
b)
B.     Berdasarkan usia pekerja yang terluka
c)
C.     Berdasarkan tingkat keparahan kondisi peralatan
d)
D.    Berdasarkan total jam kerja selama satu bulan
14.
Dalam konteks Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR), langkah pertama yang dilakukan adalah:
a)
A. Menetapkan langkah pengendalian risiko
b)
B. Mengidentifikasi bahaya
c)
C. Menilai tingkat risiko
d)
D. Membuat daftar periksa inspeksi
15.
Apa tujuan utama dari penilaian risiko dalam IBPR?
a)
A. Menemukan potensi keuntungan perusahaan
b)
B. Menilai efektivitas pelatihan pekerja
c)
C. Menilai tingkat risiko bahaya yang sudah diidentifikasi
d)
D. Menghindari kewajiban hukum perusahaan
16.
Manakah di bawah ini yang merupakan metode pengendalian risiko paling efektif menurut hierarki pengendalian risiko?
a)
A. Administrasi
b)
B. Substitusi
c)
C. Alat pelindung diri (APD)
d)
D. Eliminasi
17.
Dalam Inspeksi K3, checklist inspeksi dibuat pada tahap:
a)
A. Pelaksanaan inspeksi
b)
B. Persiapan inspeksi
c)
C. Evaluasi inspeksi
d)
D. Tindak lanjut inspeksi
18.
Setelah menemukan bahaya kritis dalam inspeksi K3, langkah terbaik yang harus dilakukan adalah:
a)
A. Melaporkan hasil inspeksi di akhir periode
b)
B. Mengambil tindakan sementara untuk mengurangi risiko
c)
C. Mewawancarai pekerja untuk mencari tahu solusinya
d)
D. Menyelesaikan laporan tanpa melakukan tindakan apapun
19.
Apa yang menjadi kunci utama dalam pelaksanaan tinjauan manajemen pada SMKP?
a)
A. Menetapkan tanggung jawab perorangan
b)
B. Menilai efektivitas kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja
c)
C. Membuat laporan kecelakaan tahunan
d)
D. Mempromosikan produk baru kepada pekerja
20.
Manakah di bawah ini yang TIDAK termasuk dalam elemen perencanaan pada SMKP?
a)
A. Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR)
b)
B. Penetapan tujuan dan sasaran K3
c)
C. Penyusunan rencana pengendalian risiko
d)
D. Tinjauan manajemen
21.

Dalam penyusunan Job Safety Analysis (JSA), langkah paling krusial setelah menguraikan pekerjaan menjadi tahapan adalah:

a)

A. Mengidentifikasi potensi bahaya pada setiap tahapan kerja

b)

B. Membagi pekerja sesuai shift yang tersedia

c)

C. Menghitung target produksi harian

d)

D. Menyusun anggaran operasional perusahaan

22.

Mengapa keterlibatan pekerja lapangan penting dalam proses JSA?

a)

A. Karena mereka paling memahami detail pekerjaan dan potensi bahayanya

b)

B. Agar mereka merasa dihargai secara administratif

c)

C. Supaya laporan JSA terlihat lebih lengkap

d)

D. Untuk mempercepat proses persetujuan manajemen

23.
Dalam audit SMKP, apa yang dimaksud dengan pemantauan kinerja K3?
a)
A. Mengawasi perilaku pekerja selama operasional
b)
B. Menilai dan mencatat hasil pelaksanaan program K3 secara berkala
c)
C. Melakukan wawancara mendalam dengan semua pekerja
d)
D. Menghitung laba perusahaan berdasarkan implementasi K3
24.
Apa fungsi utama dari dokumentasi dalam SMKP?
a)
A. Menyusun laporan keuangan perusahaan
b)
B. Memastikan setiap kegiatan dan prosedur keselamatan terdokumentasi dengan baik
c)
C. Mengurangi jumlah pekerja dalam satu tim
d)
D. Menyediakan panduan umum tentang operasional perusahaan
25.
Manakah yang termasuk dalam langkah-langkah inspeksi K3 yang benar?
a)
A. Menghindari penentuan area inspeksi
b)
B. Mengambil keputusan sebelum menemukan fakta
c)
C. Mewawancarai pekerja terkait kondisi di lapangan
d)
D. Melakukan tindak lanjut hanya jika ada kecelakaan besar
26.
Yang termasuk dalam elemen utama Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) adalah:
a)
A. Dokumentasi keuangan
b)
B. Implementasi dan Operasi
c)
C. Pengadaan barang
d)
D. Penanganan keluhan pelanggan
27.
Apa yang dimaksud dengan pengelolaan perubahan dalam elemen Implementasi dan Operasi pada SMKP?
a)
A. Mengubah struktur organisasi
b)
B. Mengelola setiap perubahan dalam operasi dari sisi keselamatan sebelum diterapkan
c)
C. Mengganti alat pelindung diri (APD) setiap tahun
d)
D. Mengurangi biaya operasional melalui restrukturisasi
28.
Elemen organisasi dan personel dalam SMKP bertujuan untuk:
a)
A. Meningkatkan gaji pekerja
b)
B. Mengelola sumber daya manusia dalam pelaksanaan K3
c)
C. Menurunkan biaya produksi
d)
D. Meningkatkan kapasitas produksi perusahaan
29.
Mengapa pelatihan K3 merupakan komponen penting dalam elemen organisasi dan personel di SMKP?
a)
A. Untuk meningkatkan pengetahuan pekerja tentang teknologi terbaru
b)
B. Untuk memberikan kesempatan karir baru bagi pekerja
c)
C. Untuk memastikan pekerja memahami dan menjalankan prosedur K3 dengan baik
d)
D. Untuk memberikan sertifikasi internasional kepada pekerja
30.
Manakah dari pilihan berikut yang merupakan contoh pengendalian risiko secara administratif?
a)
A. Menerapkan shift kerja
b)
B. Mengganti bahan kimia berbahaya dengan bahan yang lebih aman
c)
C. Memasang sistem ventilasi
d)
D. Menggunakan alat pelindung diri (APD)
31.
Dalam peraturan terkait SMKP, siapa yang bertanggung jawab terhadap penerapan sistem manajemen keselamatan di tambang?
a)
A. Operator tambang
b)
B. Karyawan lapangan
c)
C. Pihak ketiga yang diawasi
d)
D. Manajemen puncak
32.
Apa fungsi audit internal dalam evaluasi kinerja SMKP?
a)
A. Memastikan pelatihan teknis diberikan dengan benar
b)
B. Menilai kepatuhan perusahaan terhadap prosedur K3
c)
C. Mengubah kebijakan perusahaan
d)
D. Mengawasi perilaku pekerja selama istirahat
33.
Tujuan utama dari pemantauan hasil pelaksanaan program K3 dalam SMKP adalah:
a)
A. Menurunkan biaya operasional perusahaan
b)
B. Meningkatkan produktivitas tanpa memperhatikan keselamatan
c)
C. Menilai apakah program K3 telah sesuai dengan tujuan keselamatan yang ditetapkan
d)
D. Mengganti pekerja yang tidak efisien
34.
Manakah dari berikut ini yang merupakan bentuk eliminasi bahaya dalam hierarki pengendalian risiko?
a)
A. Memindahkan pekerja ke lokasi yang lebih aman
b)
B. Menghilangkan mesin yang berisiko
c)
C. Memberikan pelatihan keselamatan
d)
D. Memasang tanda peringatan di lokasi bahaya
35.
Dalam konteks evaluasi dan pemantauan kinerja K3, indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja keselamatan adalah:
a)
A. Jumlah hari kerja efektif
b)
B. Penjualan tahunan
c)
C. Key Performance Indicators (KPI)
d)
D. Bonus tahunan pekerja
36.
Peraturan Menteri ESDM No. 38 Tahun 2014 mengatur tentang:
a)
A. Pengelolaan limbah tambang
b)
B. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di sektor pertambangan minyak
c)
C. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara
d)
D. Pembentukan serikat pekerja tambang
37.
Siapakah yang bertanggung jawab langsung dalam penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan menurut Peraturan Menteri ESDM No. 38 Tahun 2014?
a)
A. Pekerja lapangan
b)
B. Kontraktor
c)
C. Pimpinan tertinggi perusahaan
d)
D. Pemerintah Daerah
38.
Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, pekerja berhak untuk:
a)
A. Menghentikan pekerjaan jika kondisi berbahaya
b)
B. Menentukan jam kerja sendiri
c)
C. Mengganti alat pelindung diri yang disediakan perusahaan
d)
D. Menolak pelatihan keselamatan
39.
Di Indonesia, regulasi mengenai kewajiban perusahaan pertambangan untuk melaporkan kecelakaan kerja diatur dalam:
a)
A. UU No. 4 Tahun 2009
b)
B. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012
c)
C. Peraturan Menteri ESDM No. 38 Tahun 2014
d)
D. UU No. 13 Tahun 2003
40.
Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 memberikan panduan tentang:
a)
A. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
b)
B. Lingkungan hidup dalam pertambangan
c)
C. Pengelolaan limbah B3
d)
D. Perdagangan hasil tambang
41.
Peraturan yang mewajibkan perusahaan tambang untuk melakukan pelaporan kecelakaan serius kepada Inspektur Tambang adalah:
a)
A. Peraturan Menteri ESDM No. 26 Tahun 2018
b)
B. UU No. 3 Tahun 2020
c)
C. Peraturan Menteri ESDM No. 38 Tahun 2014
d)
D. UU No. 23 Tahun 1997
42.
Menurut Peraturan Menteri ESDM No. 38 Tahun 2014, audit SMKP harus dilakukan setiap:
a)
A. 3 bulan
b)
B. 6 bulan
c)
C. 1 tahun
d)
D. 2 tahun
43.
Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menekankan pentingnya penerapan:
a)
A. Sistem tanggung jawab sosial perusahaan
b)
B. Keselamatan kerja dan pelestarian lingkungan
c)
C. Penambahan kuota ekspor hasil tambang
d)
D. Pemanfaatan teknologi modern dalam pertambangan
44.
Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2010 mengatur tentang:
a)
A. Pengelolaan lingkungan pertambangan
b)
B. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan usaha pertambangan mineral dan batubara
c)
C. Pengelolaan hasil tambang di daerah
d)
D. Sistem manajemen rantai pasokan pertambangan
45.
Inspektur Tambang yang memiliki kewenangan untuk mengawasi pelaksanaan K3 di lapangan diatur dalam:
a)
A. Peraturan Menteri ESDM No. 38 Tahun 2014
b)
B. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012
c)
C. UU No. 1 Tahun 1970
d)
D. UU No. 4 Tahun 2009
46.
Salah satu tujuan dari inspeksi K3 di tambang adalah untuk:
a)
A.    Mengidentifikasi kondisi tidak aman dan mencegah kecelakaan
b)
B.     Mengurangi biaya operasional tambang
c)
C.     Memastikan alat berat digunakan sesuai prosedur
d)
D.    Memastikan tenaga kerja hadir tepat waktu
47.
Apa yang menjadi pertimbangan utama dalam pelatihan K3 bagi pekerja tambang?
a)
A.    Kompetensi pekerja yang dibutuhkan di setiap departemen
b)
B.     Jumlah pekerja di lapangan
c)
C.     Alokasi dana pelatihan dari perusahaan
d)
D.    Tingkat produktivitas selama pelatihan
48.

Dokumentasi hasil inspeksi keselamatan kerja berguna untuk:

a)

A. Menjadi dasar evaluasi dan perbaikan berkelanjutan

b)

B.     Untuk disebarkan di media sosial

c)

C. Formalitas perusahaan untuk audit eksternal

d)

D. Hanya untuk memenuhi permintaan pemerintah

49.
Apa yang menjadi langkah pengendalian risiko yang paling prioritas dalam K3 pertambangan?
a)
A.    Eliminasi bahaya melalui rekayasa teknis
b)
B.     Penggunaan alat pelindung diri
c)
C.     Rotasi pekerja pada jam kerja tertentu
d)
D.    Menambahkan rambu-rambu keselamatan di lokasi kerja
50.
Manakah yang termasuk dalam pengendalian administratif untuk mengurangi risiko di pertambangan?
a)
A.    Pemberian rambu peringatan dan pembatasan jam kerja
b)
B.     Penggunaan alat pelindung diri
c)
C.     Pemeliharaan peralatan tambang
d)
D.    Pemutusan hubungan kerja bagi pekerja yang cedera
51.
Apa yang menjadi tujuan utama dari program kesehatan kerja bagi pegawai di pertambangan?
a)
A.    Mencegah penyakit akibat kerja dan meningkatkan kesehatan pegawai
b)
B.     Mengurangi jam kerja pegawai di lokasi tambang
c)
C.     Meningkatkan produktivitas pegawai
d)
D.    Menjaga peralatan tetap dalam kondisi baik
52.
Apa saja yang termasuk dalam upaya promotif kesehatan kerja di tambang?
a)
A.    Penyuluhan pola hidup sehat dan menyediakan fasilitas olahraga
b)
B.     Melakukan evaluasi risiko tambang secara berkala
c)
C.     Melaksanakan pelatihan penggunaan alat berat
d)
D.    Menggunakan alat pelindung diri setiap saat
53.
Apa yang menjadi kewajiban perusahaan tambang dalam menjaga kesehatan pekerja?
a)
A.    Menyediakan pemeriksaan kesehatan rutin bagi pekerja
b)
B.     Menyediakan pelatihan teknis secara berkala
c)
C.     Menyediakan makanan dan minuman gratis
d)
D.    Mengatur jam kerja secara fleksibel
54.
Apa yang dimaksud dengan penyakit akibat kerja dalam konteks K3 di tambang?
a)
A.    Penyakit yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja
b)
B.     Penyakit yang diperoleh dari aktivitas sehari-hari di luar tambang
c)
C.     Cedera ringan yang terjadi selama bekerja
d)
D.    Penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup pegawai
55.
Apa yang diukur oleh LTI Frequency Rate?
a)
A.    Frekuensi kecelakaan kerja yang menyebabkan hilangnya waktu kerja
b)
B.     Keparahan cedera yang diakibatkan kecelakaan
c)
C.     Jumlah hari kerja yang hilang karena kecelakaan
d)
D.    Jumlah pekerja yang terkena penyakit di tempat kerja
56.
Apa tujuan utama dari perhitungan zero fatality di tempat kerja?
a)
A.    Mencegah kematian akibat kecelakaan kerja
b)
B.     Menghilangkan seluruh jenis kecelakaan
c)
C.     Mengurangi waktu kerja yang hilang
d)
D.    Meningkatkan produktivitas karyawan
57.
Apa fungsi utama dari Crude Morbidity Rate?
a)
A.    Mengukur jumlah penyakit dalam suatu populasi
b)
B.     Mengukur tingkat keparahan cedera kerja
c)
C.     Menghitung total hari kerja yang hilang akibat kecelakaan
d)
D.    Mengukur jumlah insiden kecelakaan yang tidak fatal
58.
Apa yang diukur oleh Property Damage Frequency Rate?
a)
A.    Frekuensi kerusakan properti di tempat kerja
b)
B.     Jumlah hari kerja yang hilang karena kerusakan peralatan
c)
C.     Keparahan kecelakaan kerja
d)
D.    Total biaya kerusakan properti
59.
Apa yang diukur oleh Absence Severity Rate?
a)
A.    Jumlah hari kerja yang hilang karena ketidakhadiran karyawan
b)
B.     Frekuensi cedera yang terjadi di tempat kerja
c)
C.     Jumlah insiden kecelakaan property
d)
D.    Jumlah pekerja yang terkena penyakit kronis
60.
Apa tujuan perhitungan PAK Frequency Rate?
a)
A.    Mengukur frekuensi penyakit akibat kerja
b)
B.     Mengukur jumlah hari sakit yang diambil karyawan
c)
C.     Menilai keparahan cedera di tempat kerja
d)
D.    Menghitung kerusakan properti karena kecelakaan
61.
Apa yang dimaksud dengan Rasio Kelayakan Kerja?
a)
A.    Persentase pekerja yang secara medis dinyatakan layak untuk bekerja
b)
B.     Persentase pekerja yang telah terkena kecelakaan
c)
C.     Jumlah hari kerja yang hilang karena cedera
d)
D.    Frekuensi kecelakaan yang terjadi di tempat kerja
62.
Apa yang diukur oleh Spell Severity Rate?
a)
A.    Keparahan penyakit berdasarkan jumlah hari kerja yang hilang
b)
B.     Frekuensi cedera kerja
c)
C.     Jumlah insiden kerusakan property
d)
D.    Jumlah hari kerja yang hilang karena kecelakaan
63.
Apa tujuan perhitungan Morbidity Frequency Rate?
a)
A.    Mengukur frekuensi penyakit di tempat kerja
b)
B.     Menghitung total biaya kesehatan pekerja
c)
C.     Mengukur frekuensi kecelakaan kerja
d)
D.    Mengukur jumlah hari kerja yang hilang akibat penyakit
64.
Bagaimana Crude Morbidity Rate digunakan dalam kesehatan kerja?
a)
A.    Memantau jumlah penyakit di populasi tenaga kerja
b)
B.     Menghitung total biaya kerugian property
c)
C.     Mengukur keparahan penyakit akibat kerja
d)
D.    Memantau jumlah cedera serius di tempat kerja
65.
Apa tujuan perhitungan Absence Severity Rate di tempat kerja?
a)
A.    Menilai dampak ketidakhadiran terhadap produktivitas perusahaan
b)
B.     Mengukur frekuensi penyakit kronis
c)
C.     Menghitung biaya kerusakan akibat kecelakaan
d)
D.    Menilai jumlah pekerja yang mengalami kecelakaan kerja
66.
Apa yang diukur oleh PAK Frequency Rate?
a)
A.    Frekuensi penyakit akibat kerja dalam populasi tenaga kerja
b)
B.     Frekuensi kecelakaan yang menyebabkan kerusakan property
c)
C.     Jumlah hari kerja yang hilang akibat kecelakaan
d)
D.    Jumlah total pekerja yang terkena penyakit
67.
Apa yang diukur oleh LTI Severity Rate?
a)
A.    Keparahan cedera di tempat kerja berdasarkan hari kerja yang hilang
b)
B.     Frekuensi kecelakaan di tempat kerja
c)
C.     Jumlah kerusakan properti akibat kecelakaan
d)
D.    Jumlah pekerja yang terlibat dalam kecelakaan kerja
68.
Apa peran Property Damage Frequency Rate dalam manajemen keselamatan?
a)
A.    Menilai seberapa sering kerusakan properti terjadi di tempat kerja
b)
B.     Mengukur jumlah hari kerja yang hilang karena kecelakaan
c)
C.     Menghitung keparahan penyakit akibat kerja
d)
D.    Menghitung total biaya cedera kerja
69.
Apa yang diukur oleh Rasio Kelayakan Kerja (%)?
a)
A.    Persentase pekerja yang secara medis dinyatakan layak untuk bekerja
b)
B.     Persentase pekerja yang mengalami kecelakaan fatal
c)
C.     Jumlah total kerusakan properti di tempat kerja
d)
D.    Jumlah pekerja yang absen karena cedera
70.
Apa yang diukur oleh Morbidity Frequency Rate di tempat kerja?
a)
A.    Frekuensi penyakit di tempat kerja
b)
B.     Frekuensi kecelakaan kerja yang tidak fatal
c)
C.     Jumlah total kerusakan akibat kecelakaan
d)
D.    Keparahan penyakit akibat kerja
71.
Peraturan yang tidak membahas tentang K3 yaitu
a)
A. UU No.3 Tahun 2021
b)
B. PP No.50 /2012
c)
C. KepMen No. 1827 K/30/MEM/2018
d)
KepDirJen MinerbaNo. 185.K/37.04/DJB/2019
72.
Yang bukan termasuk laporan triwulan untuk K3 adalah
a)
A. Daftar kompetensi pekerja
b)
B. Daftar kejadian berbahaya
c)
C. Daftar jumlah jam kerja
d)
D. Laporan persediaan dan pemakaian B3
73.
Hal yang tidak benar mengenai buku tambang yaitu
a)
A. Disahkan oleh KTT dan wajib dibaca oleh pekerja baru
b)
B. Memuat larangan, petunjuk, perintah IT
c)
C. Cara pengisian mengacu pada standar nasional Indonesia
d)
D. Buku tambang bisa dipelajari oleh semua pekerja
74.
Yang bukan termasuk proses manajemen risiko yaitu
a)
A. Penanganan bahaya
b)
A. Analisis Risiko
c)
C. Evaluasi risiko bahaya yang teridentifikasi
d)
D. Penetapan konteks
75.
Bukan termasuk faktor untuk mengidentifikasi bahaya yaitu
a)
A. Faktor Bencana
b)
B. Faktor Manusia
c)
C. Kegiatan rutin dan non rutin
d)
D. Akses personel ke tempat kerja