wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

TO 1 UP PPG PAI 2025

Total questions: 50

Worksheet time: 3hrs 30mins

Name
Class
Date
1.

Dalam pembentukan akhlak karimah, pendidikan agama Islam berperan penting dalam membentuk karakter peserta didik. Akhlak karimah mencakup sifat-sifat mulia seperti jujur, adil, sabar, serta rasa tanggung jawab. Proses pembentukan ini tidak hanya melalui pengajaran teori, tetapi juga melalui praktik dalam kehidupan sehari-hari. Guru memiliki peran sebagai teladan dan pembimbing yang harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Dalam konteks pembelajaran akhlak, penting untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta membangun akhlak mulia.

Manakah rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai dengan indikator tujuan supaya peserta didik dapat meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia?

a)

Peserta didik mampu menghafal dan memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan akhlak mulia dalam Al-Qur'an dan Hadis

b)

Peserta didik dapat mengidentifikasi sifat-sifat terpuji yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk peningkatan keimanan dan ketakwaan

c)

Peserta didik diharapkan mampu menunjukkan peningkatan sikap religius dan bertanggung jawab dalam lingkungan sekolah dan masyarakat

d)

Peserta didik dapat mengaplikasikan nilai-nilai akhlak mulia dalam setiap aktivitasnya, baik di sekolah maupun di rumah

e)

Peserta didik harus mampu menjelaskan pentingnya akhlak mulia dalam kehidupan sosial berdasarkan contoh dari sejarah Islam

2.

Pernikahan adalah institusi sosial yang memiliki peran penting dalam pembentukan keluarga dan masyarakat. Dalam perspektif Islam, pernikahan bukan hanya sebagai ikatan legal antara dua individu, tetapi juga sebagai sarana mencapai tujuan spiritual dan sosial. Proses pernikahan membutuhkan pemahaman mendalam mengenai syarat-syarat, hak, dan kewajiban masing-masing pihak. Kasus pernikahan dini, misalnya, seringkali menimbulkan perdebatan mengenai kesiapan fisik dan mental pasangan muda. Dalam konteks ini, pendidikan agama berperan dalam memberikan pemahaman kritis mengenai nilai-nilai pernikahan sesuai ajaran Islam dan dampaknya terhadap kehidupan pribadi dan sosial.

Manakah rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik mengenai nilai-nilai dan dampak pernikahan dalam perspektif Islam?

a)

Peserta didik mampu menjelaskan syarat-syarat sah pernikahan dalam Islam dan menganalisis dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga

b)

Peserta didik dapat membandingkan pandangan Islam dan budaya lokal tentang pernikahan dan menentukan implikasi sosialnya

c)

Peserta didik diharapkan mampu mendiskusikan peran pernikahan dalam membentuk masyarakat yang adil dan sejahtera serta mengkritisi kasus pernikahan dini

d)

Peserta didik harus mengidentifikasi hak dan kewajiban suami istri dalam Islam serta mengevaluasi penerapannya dalam kehidupan nyata

e)

Peserta didik dapat menganalisis contoh kasus pernikahan dalam sejarah Islam dan menilai relevansinya dengan praktik pernikahan modern

3.

Dalam kajian ilmu hadis, hadis shalih memiliki kedudukan penting sebagai rujukan untuk memahami ajaran Islam. Hadis shalih adalah hadis yang sanadnya bersambung, perawinya adil dan dhabith, serta tidak terdapat cacat atau kejanggalan di dalamnya. Kriteria ini memerlukan pemahaman mendalam dan keterampilan analisis yang kuat. Dalam konteks pendidikan agama, penting untuk membekali peserta didik dengan keterampilan untuk mengidentifikasi dan menilai kualitas hadis. Hal ini membantu mereka memahami ajaran Islam secara lebih komprehensif dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini juga menumbuhkan semangat gotong royong dalam mengkaji dan berbagi pengetahuan tentang hadis.

Manakah rumusan tujuan pembelajaran ranah keterampilan yang paling sesuai untuk mendorong peserta didik memiliki semangat gotong royong dalam mempelajari dan menganalisis kriteria hadis shalih?

a)

Peserta didik mampu bekerjasama dalam kelompok untuk mengidentifikasi sanad hadis dan menilai keadilan perawinya dengan menggunakan berbagai sumber

b)

Peserta didik diharapkan dapat menyusun laporan kelompok mengenai kualitas hadis setelah melakukan diskusi mendalam tentang kejanggalan dan cacat dalam hadis

c)

Peserta didik dapat mengembangkan keterampilan analisis bersama teman sekelas untuk mengevaluasi sanad dan matan hadis dalam konteks sejarah Islam

d)

Peserta didik harus berpartisipasi aktif dalam proyek kelompok yang membahas perbedaan antara hadis shalih dan hadis dhaif serta dampaknya pada pemahaman agama

e)

Peserta didik dapat mengorganisir kegiatan belajar kelompok yang mengedepankan penelitian kolaboratif mengenai metode verifikasi keabsahan hadis

4.

Takdir sering kali dipahami sebagai ketetapan Allah yang tidak dapat diubah. Dalam ajaran Islam, takdir mencakup segala aspek kehidupan, termasuk kelahiran, kematian, dan rezeki. Pemahaman yang tepat mengenai konsep takdir dapat membantu individu menerima kenyataan hidup dengan ikhlas dan tawakal. Dalam konteks pendidikan, penting untuk mengajarkan peserta didik tentang cara menginterpretasikan takdir dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana mengembangkan sikap penerimaan terhadap tradisi yang telah diwariskan. Tradisi dalam Islam, seperti perayaan hari besar atau adat istiadat, adalah bagian dari takdir budaya yang juga perlu diterima dengan lapang dada. Pendidikan agama berperan dalam menanamkan nilai-nilai tersebut dengan cara yang bijak dan mendalam.

Manakah rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai untuk mendorong peserta didik memiliki sikap penerimaan terhadap tradisi dalam konteks pemahaman tentang takdir?

a)

Peserta didik dapat mengidentifikasi tradisi Islam yang sesuai dengan konsep takdir dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh keikhlasan

b)

Peserta didik diharapkan memiliki kesadaran untuk menghormati dan memelihara tradisi Islami sebagai bagian dari ketetapan Allah yang harus diterima dengan lapang dada

c)

Peserta didik mampu menunjukkan sikap ikhlas dan tawakal dalam menerima segala bentuk tradisi yang diwariskan dalam masyarakat sesuai dengan ajaran Islam

d)

Peserta didik dapat mengembangkan sikap kritis terhadap tradisi yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam sambil tetap menunjukkan penghormatan terhadap ketetapan takdir

e)

Peserta didik harus mampu mempraktikkan tradisi Islam secara konsisten sebagai wujud penerimaan terhadap takdir dan menghargai warisan budaya

5.

Dalam Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat yang dikenal sebagai muhkamat dan mutasyabihat. Ayat muhkamat adalah ayat yang jelas dan tegas dalam maknanya, sehingga tidak memerlukan penafsiran lebih lanjut. Sementara itu, ayat mutasyabihat memiliki makna yang samar dan memerlukan penafsiran yang mendalam. Perbedaan ini penting untuk dipahami karena berkaitan dengan cara kita menafsirkan dan mengaplikasikan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Modul Profesional PAI, memahami kedua jenis ayat ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan analisis yang tinggi. Penting bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan ini agar dapat berpikir dinamis dan inovatif ketika menghadapi tantangan dalam memahami teks-teks agama.

Manakah rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai untuk meningkatkan kemampuan berpikir dinamis peserta didik dalam memahami ayat muhkamat dan mutasyabihat?

a)

Peserta didik mampu membedakan ciri-ciri ayat muhkamat dan mutasyabihat serta menjelaskan pengaruhnya terhadap penafsiran Al-Qur'an dalam konteks modern

b)

Peserta didik diharapkan dapat menganalisis ayat-ayat mutasyabihat dan mengembangkan penafsiran yang inovatif dengan mempertimbangkan konteks sosial dan budaya

c)

Peserta didik dapat menyusun argumen mengenai pentingnya memahami perbedaan ayat muhkamat dan mutasyabihat dalam pembelajaran agama dan kehidupan sehari-hari

d)

Peserta didik harus mengidentifikasi tantangan dalam menafsirkan ayat mutasyabihat dan merumuskan solusi kreatif untuk mengatasi kesulitan yang mungkin muncul

e)

Peserta didik dapat mengevaluasi peran ayat muhkamat dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan kaitannya dengan pemahaman ayat mutasyabihat

6.

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) menawarkan cara yang inovatif untuk memahami ayat muhkamat dan mutasyabihat dalam Al-Qur'an. Dalam PBL, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik dalam merancang dan mengembangkan proyek-proyek yang relevan dengan kehidupan nyata. Peserta didik diajak untuk menggali makna ayat melalui penelitian kelompok, diskusi, dan presentasi. Mereka didorong untuk mengaitkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan isu-isu kontemporer, seperti masalah sosial dan lingkungan, serta mengembangkan solusi yang kreatif dan aplikatif. Proses ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka tentang teks agama, tetapi juga menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan solutif.

Manakah rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai untuk meningkatkan kemampuan analisis peserta didik dalam memahami ayat muhkamat dan mutasyabihat dengan pendekatan PBL?

a)

Peserta didik mampu merancang proyek kolaboratif yang mengaitkan ayat muhkamat dengan tantangan lingkungan modern dan menyusun solusi inovatif

b)

Peserta didik diharapkan dapat mengidentifikasi isu sosial yang relevan dan mengembangkan penafsiran kritis terhadap ayat mutasyabihat yang berkaitan

c)

Peserta didik dapat menyusun laporan proyek yang menganalisis hubungan antara ayat muhkamat dan mutasyabihat serta dampaknya terhadap kehidupan sosial

d)

Peserta didik harus mendemonstrasikan pemahaman mendalam tentang peran ayat mutasyabihat dalam konteks pendidikan PBL dan menerapkannya dalam proyek nyata

e)

Peserta didik dapat merancang strategi pembelajaran yang mengintegrasikan ayat muhkamat dan mutasyabihat dalam diskusi kelompok yang dinamis dan interaktif

7.

Dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran, guru berperan penting dalam memfasilitasi peserta didik untuk memahami klasifikasi hadis dengan pendekatan Project-Based Learning (PjBL). Proses pembelajaran ini diawali dengan identifikasi berbagai jenis hadis dan penjelasan mengenai sanad, matan, serta validitas hadis. Guru mengajak peserta didik untuk melakukan proyek yang mengaitkan hadis dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, peserta didik dapat membuat dokumentasi tentang bagaimana hadis tertentu diaplikasikan dalam budaya lokal. Proyek ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap struktur keilmuan hadis dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis serta analisis.

Manakah rumusan tujuan pembelajaran yang paling sesuai untuk mengarahkan peserta didik dalam menganalisis materi ajar klasifikasi hadis dengan pendekatan PjBL?

a)

Peserta didik dapat membandingkan berbagai jenis hadis dan mengidentifikasi peran masing-masing dalam pembentukan hukum Islam secara kolaboratif

b)

Peserta didik diharapkan menyusun laporan proyek tentang penerapan hadis dalam kegiatan sosial yang mencerminkan nilai-nilai Islam

c)

Peserta didik mampu merancang presentasi kelompok mengenai perbedaan antara hadis sahih, hasan, dan dhaif serta implikasinya terhadap pemahaman agama

d)

Peserta didik harus mengembangkan proyek dokumentasi yang meneliti pengaruh hadis dalam tradisi keagamaan lokal dan membagikan hasilnya

e)

Peserta didik dapat mengevaluasi contoh penerapan hadis dalam kehidupan sehari-hari dan menulis esai reflektif mengenai pengalaman tersebut

8.

Dalam proses pembelajaran materi rahasia takdir, seorang guru menggunakan pendekatan Differentiated Based Learning (DBL) untuk menyesuaikan metode pengajaran dengan karakteristik peserta didik yang beragam. Guru berusaha untuk mengaitkan konsep takdir dengan iman kepada hari akhir, sehingga siswa dapat memahami keterkaitan antara keduanya dalam ajaran Islam. Melalui pendekatan ini, guru membagi peserta didik ke dalam kelompok berdasarkan gaya belajar mereka, seperti visual, auditori, dan kinestetik. Setiap kelompok diberikan tugas dan sumber belajar yang berbeda, seperti diskusi kelompok, presentasi visual, dan aktivitas praktik untuk mengakomodasi kebutuhan belajar mereka. Tujuannya adalah agar setiap peserta didik dapat mencapai pemahaman yang mendalam dan aplikatif tentang konsep takdir serta imannya kepada hari akhir.

Manakah rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai untuk mendorong kemampuan analisis peserta didik dalam memahami hubungan takdir dengan iman kepada hari akhir melalui pendekatan DBL?

a)

Peserta didik mampu menjelaskan hubungan antara konsep takdir dan iman kepada hari akhir serta menerapkannya dalam diskusi kelompok yang dinamis

b)

Peserta didik diharapkan dapat mempresentasikan hasil analisis mereka mengenai dampak pemahaman takdir terhadap keimanan kepada hari akhir dalam kehidupan sehari-hari

c)

Peserta didik dapat mendesain proyek kelompok yang mengeksplorasi aplikasi praktis dari konsep takdir dalam konteks iman kepada hari akhir

d)

Peserta didik harus mengkaji literatur tentang hubungan takdir dengan iman kepada hari akhir dan menyusun laporan yang kritis dan terstruktur

e)

Peserta didik dapat mengembangkan model pembelajaran yang mengintegrasikan pemahaman tentang takdir dan hari akhir dengan metode DBL yang inovatif

9.

Pembentukan akhlak karimah pada peserta didik merupakan pilar penting dalam pengembangan karakter bangsa. Dalam konteks pendidikan, pendekatan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) digunakan untuk merancang materi ajar yang efektif dan menarik. Guru perlu mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan akhlak mulia. Misalnya, penggunaan platform digital dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pembentukan akhlak karimah dengan cara yang interaktif dan menginspirasi. Penting bagi guru untuk merencanakan alur materi ajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, sehingga dapat membangun akhlak mulia secara menyeluruh.

Manakah alur materi ajar pembentukan akhlak karimah yang paling sesuai dalam perencanaan tujuan pembelajaran dengan pendekatan TPACK?

a)

Guru menggunakan platform digital untuk menjelaskan konsep akhlak karimah dan melibatkan peserta didik dalam diskusi online yang membahas contoh penerapannya

b)

Guru menyusun program pembelajaran berbasis proyek yang mengaitkan teknologi dengan penerapan nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari

c)

Guru mengajak peserta didik untuk membuat video pendek yang menggambarkan situasi nyata penerapan akhlak karimah dan mempresentasikannya di kelas

d)

Guru merancang kuis interaktif dengan bantuan aplikasi digital untuk mengukur pemahaman peserta didik tentang konsep akhlak karimah

e)

Guru mengadakan sesi webinar dengan narasumber ahli untuk memberikan wawasan tambahan kepada peserta didik tentang pentingnya akhlak karimah

10.

Pelaksanaan materi ajar fiqih kontemporer menuntut pemahaman mendalam mengenai isu-isu terbaru yang dihadapi umat Islam dalam konteks global. Pendekatan Deep Learning (DL) berfokus pada pengembangan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan menyeluruh dalam memahami materi. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan peserta didik dalam mengeksplorasi berbagai perspektif fiqih dengan dukungan teknologi dan sumber belajar digital. Dalam proses pembelajaran, peserta didik diajak untuk terlibat dalam diskusi interaktif dan analisis kasus nyata yang berkaitan dengan fiqih kontemporer, seperti tantangan ekonomi syariah dan isu lingkungan dalam pandangan Islam.

Manakah alur materi ajar fiqih kontemporer yang paling sesuai dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran dengan pendekatan DL sesuai dengan karakteristik peserta didik?

a)

Guru memfasilitasi workshop digital yang mengeksplorasi isu-isu fiqih kontemporer, mendorong peserta didik untuk menyusun proposal solusi

b)

Guru mengadakan sesi diskusi reguler dengan narasumber ahli untuk membahas tantangan fiqih kontemporer dan implikasinya bagi umat Islam

c)

Guru mengarahkan peserta didik untuk melakukan penelitian lapangan tentang dampak fiqih kontemporer dalam praktik ekonomi syariah

d)

Guru menggunakan platform pembelajaran online untuk mengembangkan modul yang menggabungkan teori dan aplikasi fiqih kontemporer dalam kehidupan sehari-hari

e)

Guru menyusun proyek kelompok yang mengkaji pengaruh perkembangan teknologi terhadap interpretasi fiqih dalam masyarakat modern

11.

Seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sedang merancang materi ajar tentang transformasi peradaban Islam. Guru tersebut mengamati bahwa peserta didik cenderung aktif dalam diskusi kelompok dan menunjukkan minat pada aspek perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kejayaan Islam. Untuk mengoptimalkan proses pembelajaran, guru hendak menerapkan model pelayanan konseling yang menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik, sekaligus memastikan alur materi ajar dapat mendukung pencapaian tujuan pembelajaran secara logis.

Menurut Anda, langkah mana yang paling tepat untuk menentukan alur materi ajar dalam mengevaluasi tujuan pembelajaran transformasi peradaban Islam dengan pendekatan konseling dan karakteristik peserta didik?

a)

Menyusun materi pembelajaran dimulai dari sejarah munculnya peradaban Islam, kemudian aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, dan terakhir dampaknya terhadap peradaban dunia

b)

Memulai dengan konsep dasar peradaban Islam, dilanjutkan dengan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, diakhiri dengan perkembangan ilmu pengetahuan di masa klasik Islam

c)

Mengurutkan materi berdasarkan tingkat kompleksitas konsep, mulai dari pengertian peradaban hingga transformasi teknologi yang terjadi dalam peradaban Islam

d)

Menggunakan pendekatan tematik yang menggabungkan aspek sosial, ekonomi, serta politik dalam transformasi peradaban Islam pada setiap pembelajaran

e)

Membagi materi menjadi dua bagian utama, yaitu perkembangan spiritual dan kemajuan ilmu pengetahuan pada peradaban Islam, dengan fokus evaluasi pada kemampuan aplikatif peserta didik

12.

Seorang guru sedang merancang program pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila (P5) ke dalam proses penguatan karakter peserta didik. Guru tersebut menyadari bahwa karakteristik kelas terdiri dari peserta didik dengan tingkat kepedulian sosial dan motivasi belajar yang berbeda-beda. Selain itu, guru ingin agar tujuan pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga dominasai sikap dan kemampuan sosial sesuai nilai-nilai Pancasila. Maka, perencanaan pengembangan materi ajar harus mempertimbangkan integrasi nilai-nilai tersebut secara menyeluruh dan sesuai dengan profil peserta didik.

Dalam konteks pembelajaran ini, manakah cara paling logis yang dapat ditetapkan untuk mengembangkan materi ajar nilai-nilai P5 dalam merencanakan tujuan pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik?

a)

Mengembangkan materi ajar berdasarkan nilai-nilai Pancasila dengan menyesuaikan praktik pembelajaran sesuai minat dan latar belakang sosial peserta didik

b)

Merancang tujuan pembelajaran yang mengutamakan aspek kognitif terlebih dahulu baru menyisipkan nilai sosial dan karakter Pancasila sebagai pengayaan

c)

Menyusun materi yang berorientasi pada pengembangan kompetensi dasar peserta didik dan menghubungkannya dengan nilai-nilai Pancasila secara eksplisit

d)

Mengintegrasikan nilai Pancasila ke dalam setiap aspek pembelajaran tanpa mempertimbangkan perbedaan karakter peserta didik secara mendalam

e)

Menentukan tujuan pembelajaran dengan fokus utama pada pengembangan keterampilan teknis, sementara nilai Pancasila disampaikan secara terpisah

13.

Seorang guru PAI merancang program pembelajaran untuk menguatkan nilai-nilai Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (PPRA) dalam kelas yang beragam secara budaya dan latar belakang sosial. Guru tersebut menyadari bahwa peserta didik memiliki perbedaan dalam cara memahami dan menghayati konsep rahmatan lil alamin, sehingga perlu menciptakan materi ajar yang inklusif dan mampu menjembatani perbedaan tersebut. Selain itu, dalam melaksanakan tujuan pembelajaran, guru berusaha menyesuaikan materi dengan karakteristik peserta didik untuk meningkatkan penerimaan dan implementasi nilai-nilai rahmatan lil alamin dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Anda, cara apa yang paling tepat dalam mengembangkan materi ajar nilai-nilai PPRA untuk melaksanakan tujuan pembelajaran secara efektif sesuai karakteristik peserta didik?

a)

Menyusun materi ajar yang menekankan pada contoh-contoh implementasi nilai rahmatan lil alamin secara kontekstual sesuai keberagaman budaya peserta didik

b)

Mengutamakan penyampaian materi secara teori terlebih dahulu sebelum diikuti dengan diskusi mengenai penerapan nilai PPRA

c)

Merancang materi yang fokus pada aspek ritual keagamaan tanpa memberikan penekanan pada nilai sosial kemanusiaan PPRA

d)

Menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu tanpa penyesuaian terhadap karakteristik dan kebutuhan peserta didik

e)

Memberikan materi yang dominan pada norma sosial umum tanpa mengaitkan secara langsung dengan prinsip rahmatan lil alamin

14.

Dalam konteks masyarakat yang plural, seorang guru PAI mencoba mengembangkan materi pembelajaran untuk mendukung program moderasi beragama. Guru tersebut menemukan bahwa beberapa peserta didik memiliki kecenderungan sikap eksklusif dan sulit menerima perbedaan. Oleh karena itu, guru ingin mengembangkan kegiatan pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai wasathiyah, seperti keseimbangan, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan. Guru juga berusaha menyesuaikan materi dengan karakteristik peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan nilai-nilai moderasi dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah manakah yang paling tepat dalam pengembangan materi ajar moderasi beragama untuk melaksanakan tujuan pembelajaran sesuai karakteristik peserta didik?

a)

Mengembangkan materi ajar yang mengintegrasikan nilai wasathiyah dalam aktivitas diskusi kelompok tentang pentingnya toleransi dan hidup berdampingan

b)

Menekan aspek doktrin keagamaan tanpa memfasilitasi dialog antar peserta didik dengan latar belakang berbeda

c)

Menitikberatkan pemahaman teks agama secara literal tanpa mengaitkan dengan nilai moderasi dalam praktik sosial

d)

Mengedepankan materi pembelajaran yang bersifat teoritis tanpa kegiatan reflektif untuk memahami sikap moderat

e)

Mengajarkan nilai keterbukaan hanya dalam ruang kelas tanpa mengaitkan pada pengalaman sosial nyata peserta didik

15.

Seorang guru PAI mempraktikkan implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam kelasnya yang beragam budaya dan latar belakang keagamaan. Guru tersebut menekankan bahwa moderasi beragama penting untuk menjaga kerukunan dan menghindari sikap ekstremisme yang dapat memecah belah masyarakat. Dalam mengembangkan materi ajar Islam sebagai agama wasathiyah, guru ingin menanamkan alasan yang mendasar mengapa umat Islam harus mengedepankan sikap moderat. Materi ajar ini juga dirancang agar sesuai dengan karakteristik peserta didik dan konteks sosial mereka.

Menurut Anda, alasan manakah yang paling tepat dijadikan dasar saat menilai pengembangan materi ajar Islam sebagai agama moderat sesuai implementasi moderasi beragama?

a)

Moderasi beragama penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai dan saling menghargai keberagaman tanpa memicu konflik

b)

Sikap moderat dipilih sebagai materi utama karena dapat memperkuat identitas keagamaan dengan menegaskan kebenaran mutlak suatu kelompok

c)

Pengembangan materi berfokus pada aspek ritual tanpa mengaitkan dengan nilai-nilai sosial dan toleransi demi menjaga keaslian ajaran

d)

Materi ajar menekankan kompetisi antar kelompok beragama untuk menunjukkan superioritas keyakinan masing-masing

e)

Pembelajaran diarahkan untuk memperluas pengaruh agama tertentu tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang moderat

16.

Seorang guru PAI merancang pembelajaran tafsir pada surat-surat pilihan yang mendalam dengan mengacu pada struktur keilmuan tafsir yang melibatkan orientasi bahasa, konteks historis, serta penafsiran makna kontekstual. Guru berusaha menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBM) sehingga peserta didik dapat secara kritis dan aktif menggali makna ayat melalui masalah riil yang relevan dalam kehidupan mereka. Dalam hal ini, guru merumuskan permasalahan yang mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan fenomena sosial dan budaya yang sedang terjadi, sehingga peserta didik terdorong untuk menemukan solusi bernilai moral dan keagamaan.

Manakah rancangan pembelajaran berbasis masalah yang paling tepat sesuai dengan materi kajian tafsir dan struktur keilmuan tafsir tersebut?

a)

Menyusun skenario masalah yang mengangkat isu sosial terkini dan meminta peserta didik menafsirkan ayat Al-Qur’an terkait untuk menemukan solusi yang sesuai nilai-nilai Islam

b)

Mengajarkan tafsir dengan menjelaskan satu per satu ayat tanpa mengaitkannya dengan problematika peserta didik, agar fokus pada dasar-dasar teks suci

c)

Menggunakan diskusi terbatas soal bahasa Arab tanpa melibatkan konteks sejarah dan masalah kehidupan nyata peserta didik

d)

Mengarahkan peserta didik untuk menghafal tafsir mufrad tanpa mempertimbangkan kebutuhan pemahaman konteks sosial masa kini

e)

Memberikan kajian tafsir yang hanya berorientasi pada pendekatan klasik tanpa memfasilitasi eksplorasi masalah aktual peserta didik

17.

Seorang guru PAI di kelas XI menghadapi kondisi di mana sebagian besar siswanya menerima informasi keagamaan dari media sosial, termasuk hadis-hadis yang beredar tanpa sumber jelas. Guru ingin mengajarkan klasifikasi hadis dengan tujuan agar siswa dapat membedakan mana hadis yang sahih dan mana yang lemah, serta mampu bersikap kritis terhadap konten keagamaan di dunia digital.

Dalam perencanaan pembelajarannya, guru ingin menggunakan Pendekatan Problem Based Learning (PBL). Guru menyiapkan sebuah studi kasus berupa cuplikan postingan di media sosial yang mencantumkan hadis populer tanpa sanad yang jelas. Siswa diminta mengkaji keabsahan hadis tersebut dengan bimbingan guru, lalu merumuskan sikap yang tepat terhadap fenomena tersebut.

Dari beberapa rancangan pembelajaran berikut, manakah yang paling tepat sesuai prinsip PBL dan kompetensi pedagogik guru PAI dalam mengajarkan klasifikasi hadis?

a)

Guru memberikan penjelasan panjang tentang klasifikasi hadis, lalu memberikan latihan soal tertulis mengenai perbedaan hadis shahih, hasan, dan dhaif

b)

Guru menyajikan kasus hadis dari media sosial, meminta siswa mendiskusikan kesahihan sanad, lalu membimbing mereka menemukan kriteria hadis sahih sebelum membuat refleksi

c)

Guru membagikan ringkasan tabel klasifikasi hadis dan memerintahkan siswa menghafalkan perbedaan antar kategori hadis, kemudian diuji dengan kuis

d)

Guru menyuruh siswa mencari definisi hadis sahih, hasan, dan dhaif di buku teks, kemudian menyajikan hasil bacaan dalam bentuk presentasi kelompok

e)

Guru menayangkan video ceramah ulama tentang hadis sahih dan dhaif, lalu meminta siswa menuliskan kembali intinya untuk dibahas di kelas

18.

Ibu Khadijah, guru PAI di kelas XII, menyadari bahwa sebagian besar siswanya memiliki miskonsepsi fatalisme (pasrah total tanpa usaha) terkait materi takdir, yang mereka kaitkan dengan keyakinan akan Hari Akhir. Mereka cenderung kurang semangat beramal karena menganggap semua sudah ditentukan. Tujuan pembelajaran Bu Khadijah adalah agar siswa mampu menganalisis secara kritis hubungan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal dalam konteks takdir Mubram dan Mu'allaq, serta meyakini bahwa amal di dunia akan dipertanggungjawabkan di Hari Akhir.

Bu Khadijah ingin menerapkan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) yang diintegrasikan dengan TPACK untuk memecahkan masalah miskonsepsi tersebut secara mendalam dan kontekstual.

Dari rancangan pembelajaran berikut, manakah tahapan PBL dan integrasi TPACK yang paling efektif untuk mengatasi miskonsepsi fatalisme siswa tersebut dan mencapai tujuan pembelajaran yang kritis?

a)

Guru memulai dengan memberikan kuis digital (Google Form/Quizizz) untuk menguji pengetahuan awal siswa tentang rukun iman, kemudian meminta siswa membaca literatur ulama klasik di perpustakaan sekolah tentang takdir. Tahapan ini dilanjutkan dengan presentasi individu hasil bacaan mereka di depan kelas tanpa diskusi mendalam

b)

Guru menyajikan video kasus viral di media sosial (integrasi Teknologi) tentang seseorang yang sukses berkat kerja keras (ikhtiar) namun mengklaim takdirnya memang sudah baik (masalah). Siswa dibagi kelompok untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah (Tahap 1 PBL) dalam kasus tersebut, kemudian mencari solusi berdasarkan dalil dan interpretasi kontekstual

c)

Guru memfasilitasi setiap kelompok siswa membuat infografis digital (integrasi Teknologi) tentang konsep takdir dan Hari Akhir, lalu mengunggahnya ke media sosial sekolah untuk disebarkan (Tahap PjBL/PBL). Namun, guru hanya memberikan panduan materi dari buku paket tanpa menyajikan studi kasus masalah yang relevan dengan konteks kehidupan siswa

d)

Guru meminta siswa melakukan studi lapangan (observasi) ke panti sosial atau rumah sakit untuk menemukan kasus yang menunjukkan kegagalan dan keberhasilan seseorang (masalah), mendokumentasikannya dengan aplikasi slide presentasi (integrasi Teknologi), lalu mempresentasikan temuan tanpa ada sesi peer review yang menekankan pada sintesis dalil dan amal

e)

Guru menjelaskan perbedaan takdir Mubram dan Mu'allaq secara detail menggunakan animasi interaktif (integrasi Teknologi), kemudian meminta siswa membuat ringkasan materi di buku catatan. Di akhir sesi, guru memberikan tes tulis standar yang menguji daya ingat siswa terhadap definisi dan contoh takdir

19.

Ibu Salma, guru PAI kelas XI, menghadapi tantangan dalam mengajarkan materi Mukjizat, Karamah, dan Sihir. Berdasarkan hasil asesmen diagnostik, diketahui bahwa:

Kelompok A (Auditori/Konseptual): Cenderung menyukai penjelasan teoritis mendalam tentang perbedaan khawariqul 'adah (kejadian luar biasa) dan aspek ushul fiqh terkait hukum sihir.

Kelompok B (Visual/Kreatif): Lebih tertarik pada kisah-kisah nabi dan wali (mukjizat/karamah) serta visualisasi bahaya sihir/khurafat di media sosial.

Kelompok C (Kinestetik/Aplikatif): Membutuhkan tugas praktis, seperti membuat kampanye anti-syirik atau melakukan wawancara dengan tokoh agama.

Tujuan pembelajaran Bu Salma adalah agar semua siswa mampu menganalisis perbedaan esensial antara ketiga konsep tersebut (mukjizat, karamah, dan sihir) dan dapat menghindari praktik syirik. Bu Salma memutuskan untuk menerapkan Pembelajaran Berbasis Diferensiasi (DBL).

Manakah rancangan kegiatan pembelajaran diferensiasi yang paling tepat dan efektif yang dilakukan Bu Salma untuk memenuhi kebutuhan ketiga kelompok siswa tersebut (A, B, dan C) secara seimbang?

a)

Bu Salma hanya memfokuskan kegiatan pada diferensiasi produk: Kelompok A membuat jurnal refleksi, Kelompok B membuat poster digital, dan Kelompok C membuat kliping. Namun, proses pembelajaran di kelas dilakukan secara seragam melalui ceramah satu arah

b)

Bu Salma meminta semua kelompok siswa menonton video dokumenter tentang mukjizat para nabi (diferensiasi konten), kemudian meminta mereka menulis esai yang sama (tanpa diferensiasi proses/produk) mengenai perbedaan antara mukjizat dan sihir, yang berpotensi menyulitkan kelompok kinestetik

c)

Guru memberikan modul bacaan mendalam untuk Kelompok A (Diferensiasi Konten), memfasilitasi Kelompok B untuk mengakses platform video edukasi dan membuat mind-map visual (Diferensiasi Proses), dan menugaskan Kelompok C untuk merancang mini-slogan anti-sihir yang dipajang di mading sekolah (Diferensiasi Produk)

d)

Guru mendiferensiasi tempat duduk dan memberikan waktu belajar yang berbeda (diferensiasi lingkungan). Setelah itu, semua siswa wajib mengikuti sesi diskusi kelompok yang dipandu guru dengan topik yang sama, serta menghasilkan produk berupa presentasi power point standar

e)

Guru membagi kelompok berdasarkan jenis kelamin, lalu meminta setiap kelompok menghafal dalil-dalil tentang karamah. Setelah hafal, semua kelompok wajib membuat simulasi drama tentang kisah Nabi Musa melawan tukang sihir (tanpa mempertimbangkan preferensi auditori atau kinestetik)

20.

Pak Hasan, guru PAI kelas VII, sedang mengajarkan materi Pembentukan Akhlak Karimah yang berfokus pada implementasi nilai Jujur, Tanggung Jawab, dan Disiplin di kehidupan sehari-hari. Hasil asesmen diagnostik menunjukkan bahwa siswa terbagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan kemampuan pedagogi:

Kelompok I (Konseptual): Cenderung unggul dalam analisis teks dan membuat narasi, tetapi lemah dalam aplikasi praktis.

Kelompok II (Sosial/Interpersonal): Unggul dalam komunikasi kelompok dan role-playing, tetapi kesulitan menuangkan ide ke dalam tulisan formal.

Kelompok III (Aplikatif/Kinestetik): Cenderung aktif dan suka proyek berbasis tindakan langsung di lingkungan sekolah.

Tujuan pembelajaran Pak Hasan adalah agar semua siswa mampu menginternalisasi dan merefleksikan akhlak karimah melalui kegiatan yang sesuai dengan gaya belajar mereka. Oleh karena itu, Pak Hasan memutuskan menerapkan Diferensiasi Proses dan Produk.

Manakah rancangan pembelajaran Diferensiasi Proses dan Produk yang paling tepat dan efektif yang dilakukan Pak Hasan untuk memastikan setiap kelompok (I, II, dan III) mencapai internalisasi akhlak karimah secara maksimal?

a)

Guru meminta semua kelompok membuat peta konsep (mind-map) tentang definisi akhlak karimah (proses seragam), kemudian semua kelompok wajib membuat laporan tertulis formal tentang pentingnya kejujuran, yang berpotensi membebani kelompok aplikatif dan sosial

b)

Guru menyediakan teks-teks kasus dilema moral untuk dibaca (Diferensiasi Konten). Kelompok I membuat esai reflektif tentang solusi kasus. Kelompok II melakukan simulasi role-playing penyelesaian konflik (Diferensiasi Proses). Kelompok III membuat prototipe 'Kotak Kejujuran' di kantin sekolah (Diferensiasi Produk)

c)

Guru memfasilitasi semua siswa menonton film tentang pahlawan yang jujur (Proses Visual seragam). Setelah itu, setiap siswa diberikan tugas untuk menghafal dalil tentang disiplin sebagai produk, tanpa adanya upaya membedakan tugas berdasarkan preferensi gaya belajar yang berbeda

d)

Guru menugaskan Kelompok I untuk membuat pidato tentang tanggung jawab. Kelompok II membuat video TikTok tentang pentingnya disiplin. Kelompok III diminta membuat komik strip tentang kejujuran. Namun, guru gagal menyediakan materi pendukung yang bervariasi (Diferensiasi Konten)

e)

Guru hanya membedakan waktu pengerjaan tugas (Diferensiasi Lingkungan). Semua siswa diminta menganalisis teks dari buku paket, lalu diminta untuk membuat daftar cek (checklist) sederhana mengenai aktivitas harian yang mencerminkan akhlak karimah yang harus dilakukan secara individu

21.

Pak Firman, guru PAI kelas XII, sedang mengajarkan materi Fikih Kontemporer dengan fokus pada Zakat Produktif dan Perbankan Syariah (Topik 5 Modul Profesional). Pak Firman menyadari bahwa siswa memiliki minat dan tingkat literasi digital yang berbeda-beda. Ia ingin menerapkan Pembelajaran Diferensiasi yang diintegrasikan dengan TPACK agar semua siswa dapat menganalisis konsep Zakat Produktif secara kontekstual. Hasil asesmen diagnostik menunjukkan:

Kelompok A (Auditori/Konseptual): Tertarik pada analisis fatwa dan dalil, lebih suka podcast atau seminar daring.

Kelompok B (Visual/Analitis): Tertarik pada data statistik dan perbandingan produk keuangan, lebih suka infografis atau video.

Kelompok C (Kinestetik/Aplikatif): Tertarik pada studi kasus langsung dan simulasi, ingin mengetahui mekanisme penyaluran zakat produktif.

Manakah rancangan pembelajaran diferensiasi (DBL) yang paling tepat dan paling efektif yang memanfaatkan Teknologi (TPACK) untuk memenuhi kebutuhan ketiga kelompok siswa tersebut (A, B, dan C) dalam memahami dan mempraktikkan Zakat Produktif?

a)

Guru meminta semua kelompok membuat makalah tertulis tentang sejarah Bank Syariah, kemudian guru menyajikan ceramah menggunakan slide PowerPoint (Teknologi) yang seragam di depan kelas, tanpa membedakan konten, proses diskusi, maupun produk akhir dari siswa

b)

Guru memfasilitasi Kelompok A untuk mendengarkan rekaman podcast Fatwa MUI (Diferensiasi Konten/Teknologi), menugaskan Kelompok B membuat Infografis Komparatif Skema Zakat vs Bunga Bank menggunakan aplikasi desain grafis (Diferensiasi Produk/Teknologi), dan Kelompok C membuat Video Role-Play Wawancara dengan Amil Zakat tentang skema penyaluran produktif (Diferensiasi Proses/Teknologi)

c)

Guru membagi kelompok berdasarkan tempat duduk, kemudian menugaskan semua siswa untuk mengunduh e-book (Teknologi) tentang Fikih Kontemporer. Setelah itu, guru memberikan soal esai yang menguji daya ingat tentang definisi zakat dan bunga, yang tidak berorientasi pada penerapan nyata

d)

Guru meminta semua kelompok melakukan studi lapangan ke kantor BAZNAS atau Bank Syariah, mendokumentasikannya dengan aplikasi kamera ponsel (Teknologi). Namun, proses pelaporan dan presentasi di kelas dilakukan secara lisan tanpa adanya variasi format konten yang dikuasai siswa

e)

Guru hanya memberikan tugas yang berbeda (Diferensiasi Produk): Kelompok A membuat artikel, Kelompok B membuat poster, dan Kelompok C membuat drama. Namun, guru tidak menyediakan akses teknologi yang bervariasi, hanya mengandalkan buku teks cetak sebagai satu-satunya sumber materi (Diferensiasi Konten)

22.

Pak Zaki, guru PAI kelas XI, sedang mengajarkan materi Hak-hak Rakyat dalam Perspektif Islam (meliputi hak politik, ekonomi, keadilan, dan pendidikan). Pak Zaki menyadari bahwa siswa sering melihat materi ini sebagai teori politik yang kering dan kurang relevan dengan pengalaman pribadi mereka. Tujuan Pak Zaki adalah agar siswa mencapai Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) melalui tiga dimensi: Meaningful Learning (bermakna), Mindful Learning (penuh kesadaran), dan Joyful Learning (menyenangkan).

Pak Zaki ingin agar siswa tidak hanya menghafal hak-hak tersebut, tetapi mampu menganalisis implementasi hak-hak tersebut dalam isu-isu sosial-ekonomi di sekitar mereka dan mengambil tindakan reflektif.

Manakah rancangan kegiatan pembelajaran yang paling tepat dan efektif yang dirancang oleh Pak Zaki untuk memfasilitasi siswa mencapai Deep Learning pada materi Hak-hak Rakyat dalam Islam?

a)

Guru memulai dengan memberikan kuis mendadak tentang definisi hak-hak rakyat menurut Khulafaur Rasyidin. Setelah itu, siswa diminta membuat ringkasan naratif dari buku paket, yang lebih menekankan pada daya ingat (Memorizing) daripada analisis mendalam (Meaningful Learning)

b)

Guru menyajikan studi kasus mengenai warga di sekitar sekolah yang kesulitan mengakses pendidikan atau layanan kesehatan (masalah nyata/relevan). Siswa diminta menganalisis kasus tersebut berdasarkan prinsip Maslahah Mursalah dalam Islam (Meaningful Learning), dan difasilitasi membuat mini-proyek advokasi sederhana yang menyenangkan

c)

Guru meminta siswa membaca e-book tentang Hak Asasi Manusia secara umum, lalu melakukan diskusi formal untuk membandingkan konsep HAM Barat dan HAM Islam. Proses ini diakhiri dengan pemberian nilai tertinggi bagi kelompok yang paling cepat menyelesaikan argumennya, mengabaikan aspek kesadaran reflektif (Mindful Learning)

d)

Guru menugaskan siswa untuk menghafal semua ayat dan hadis yang berkaitan dengan hak-hak rakyat (fokus pada kuantitas konten). Setelah hafal, siswa diminta melakukan role-playing tentang musyawarah Nabi Muhammad, yang tidak melibatkan sintesis dan aplikasi terhadap isu kontemporer

e)

Guru hanya memfokuskan pembelajaran pada aspek Joyful Learning dengan mengadakan permainan kelompok yang tidak relevan dengan konten hak rakyat. Di akhir permainan, siswa hanya diminta menulis satu kalimat refleksi tanpa adanya tuntutan analisis mendalam terhadap struktur keilmuan Islam

23.

Ibu Siti, guru PAI kelas X, mendapati siswanya cenderung menganggap sejarah Kepemimpinan Islam era Khulafaur Rasyidin hanya sebagai urutan kronologis yang membosankan (Memorizing). Padahal, tujuan utamanya adalah agar siswa dapat menganalisis model kepemimpinan profetik (kenabian) yang dilanjutkan oleh empat khalifah dan menginternalisasi nilai-nilai syura, keadilan, dan integritas dalam konteks kepemimpinan modern.

Ibu Siti ingin menerapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menekankan pada Meaningful Learning (relevansi konteks), Mindful Learning (refleksi kesadaran), dan Joyful Learning (keterlibatan aktif).

Manakah rancangan pembelajaran yang paling tepat dan paling efektif yang memanfaatkan prinsip Deep Learning untuk mengubah sejarah kepemimpinan menjadi studi kasus yang relevan dan mendalam bagi siswa kelas X?

a)

Guru meminta siswa membuat timeline kronologis lengkap tentang masa jabatan empat Khulafaur Rasyidin, kemudian guru memberikan tes esai yang menguji daya ingat siswa terhadap tahun-tahun peristiwa penting (fokus pada Memorizing dan proses kognitif rendah)

b)

Guru menyajikan kasus dilema kepemimpinan kontemporer (misalnya, masalah korupsi publik). Siswa dibagi kelompok untuk menganalisis solusi dilema tersebut berdasarkan prinsip keadilan Umar bin Khattab (Meaningful Learning), kemudian melakukan simulasi press conference solusi secara kreatif (Joyful Learning)

c)

Guru meminta siswa menghafal biografi lengkap para khalifah. Setelah itu, siswa diminta untuk membuat video pendek dengan platform media sosial yang hanya berisi pujian heroik kepada para sahabat, tanpa adanya analisis terhadap keputusan atau kebijakan politik mereka

d)

Guru menugaskan siswa untuk membaca bab sejarah kepemimpinan dari buku teks secara individu. Kemudian, guru meminta siswa untuk menulis jurnal refleksi pribadi (Mindful Learning) tentang perasaan mereka setelah membaca sejarah, namun gagal mengaitkannya dengan masalah sosial atau kepemimpinan nyata di lingkungan mereka

e)

Guru hanya mengadakan kuis berhadiah yang mengharuskan siswa menjawab dengan cepat dan benar tentang fakta-fakta sejarah. Kegiatan ini menciptakan Joyful Learning yang bersifat dangkal, tanpa mendorong siswa untuk menghubungkan nilai-nilai kepemimpinan historis dengan tanggung jawab mereka sebagai pelajar

24.

Ibu Wulan, guru PAI kelas VIII, menghadapi tantangan besar dalam mengajarkan nilai Tanggung Jawab dan nilai Empati. Siswa cenderung acuh tak acuh terhadap masalah sampah di sekolah dan perundungan ringan (bullying) yang sering terjadi. Ibu Wulan ingin agar siswa tidak hanya menghafal definisi nilai, tetapi mampu menginternalisasi nilai-nilai tersebut (Meaningful Learning) dan mengambil tindakan nyata (Joyful Learning) dalam konteks lingkungan sekolah, didukung oleh kesadaran penuh (Mindful Learning).

Ibu Wulan berencana menerapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang diintegrasikan dengan pemanfaatan Teknologi (TPACK) untuk menciptakan pengalaman belajar yang transformatif.

Manakah rancangan pembelajaran Deep Learning yang paling tepat dan paling efektif yang memanfaatkan Teknologi (TPACK) untuk menanamkan nilai Tanggung Jawab terhadap lingkungan dan nilai Empati terhadap korban perundungan?

a)

Guru meminta semua siswa membuat ringkasan materi tentang nilai karakter di buku catatan (kognitif rendah) dan mempresentasikan hasil hafalannya di depan kelas. Guru mengunggah video tutorial tentang cara membuat mind-map (teknologi sederhana), namun video tersebut tidak relevan dengan topik tanggung jawab atau empati

b)

Guru memfasilitasi siswa menggunakan aplikasi virtual reality (VR) untuk mensimulasikan lingkungan sekolah yang kotor dan situasi perundungan (Teknologi/Meaningful Learning). Setelah itu, siswa diminta membuat Kampanye Digital Anti-Perundungan di media sosial sekolah dan membuat Janji Diri Mindful Learning untuk tidak membuang sampah sembarangan (Mindful Learning/Joyful Learning)

c)

Guru memberikan kuis cepat menggunakan platform digital tentang definisi Empati dan Tanggung Jawab. Kemudian, guru menugaskan siswa untuk mencari dalil-dalil terkait kedua nilai tersebut di internet (Teknologi tool-using), namun tanpa adanya tuntutan untuk menganalisis penerapan dalil tersebut dalam konteks kehidupan sekolah

d)

Guru menugaskan siswa untuk membuat laporan tertulis formal tentang sejarah pendidikan karakter di Indonesia, yang kemudian dikumpulkan sebagai tugas individu. Guru menggunakan papan tulis interaktif (Teknologi low-impact) untuk mencatat hasil diskusi, namun diskusinya sendiri tidak menyentuh masalah nyata di sekolah

e)

Guru mengadakan lomba mendongeng tentang tokoh yang bertanggung jawab dan berempati. Guru merekam momen tersebut dengan kamera (Teknologi). Meskipun ada Joyful Learning, tidak ada tuntutan Meaningful Learning (koneksi nilai dengan masalah nyata) dan Mindful Learning (refleksi kesadaran diri)

25.

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), guru diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam yang moderat dengan penggunaan teknologi untuk memfasilitasi pembelajaran yang efektif dan menarik. Konsep Islam moderat mengedepankan toleransi, kemanusiaan, dan persaudaraan universal. Dengan pendekatan pembelajaran berbasis TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge), guru dapat merancang pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik.

Seorang guru PAI merancang sebuah pembelajaran dengan topik "Islam sebagai Agama yang Moderat". Dia menggunakan platform pembelajaran digital untuk meningkatkan interaksi antara siswa. Selain itu, dia mengajak siswa untuk melakukan diskusi kelompok mengenai peran Islam dalam menjaga perdamaian dunia. Apa yang harus dilakukan guru agar pembelajaran tersebut sesuai dengan pendekatan TPACK?

a)

Menggunakan video ceramah ulama tentang Islam moderat untuk memicu diskusi dan meminta siswa membuat rangkuman secara individu

b)

Menugaskan siswa membuat poster digital yang menggambarkan nilai-nilai Islam moderat dan mempresentasikannya di depan kelas

c)

Mengadakan kuis online tentang sejarah Islam dan memberikan penghargaan pada kelompok dengan nilai tertinggi, lalu mendiskusikan hasilnya

d)

Menggunakan aplikasi pembelajaran interaktif untuk menyimulasikan situasi konflik yang dapat diatasi dengan pendekatan Islam moderat

e)

Meminta siswa menulis esai tentang pengalaman pribadi mereka menerapkan prinsip Islam moderat dalam kehidupan sehari-hari dan mendiskusikannya dalam kelompok kecil

26.

Dalam pembelajaran tafsir Al-Qur'an, guru PAI berusaha memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami makna literal dari ayat-ayat, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan isu-isu kekinian. Guru memanfaatkan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan dapat memahami bahwa tafsir Al-Qur'an tidak statis melainkan dinamis dan kontekstual.

Strategi apa yang dapat diterapkan oleh guru untuk menggunakan pendekatan PBL dalam pengajaran tafsir Al-Qur'an agar siswa mampu mengaitkan maknanya dengan isu-isu kekinian?

a)

Mengadakan diskusi panel di mana siswa berperan sebagai ahli tafsir dan memberikan pandangan mereka tentang bagaimana ayat-ayat Al-Qur'an dapat diterapkan pada isu global saat ini

b)

Menyediakan studi kasus tentang tantangan sosial modern dan meminta siswa untuk menganalisisnya menggunakan prinsip-prinsip tafsir Al-Qur'an

c)

Memfasilitasi debat kelas mengenai interpretasi tafsir Al-Qur'an yang berbeda dan dampaknya terhadap pemahaman siswa tentang isu-isu modern

d)

Mengatur kunjungan studi ke lembaga Islam untuk mendapatkan wawasan mengenai penerapan tafsir dalam konteks sosial masa kini

e)

Menyusun proyek kelompok di mana siswa meneliti dan menyajikan makna tafsir Al-Qur'an dalam kaitannya dengan permasalahan kontemporer, diikuti dengan refleksi kelompok

27.

Seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mendapati bahwa materi tentang klasifikasi hadis yang diajarkan di sekolah kurang sesuai dengan kebutuhan siswa saat ini yang lebih akrab dengan teknologi dan informasi digital. Untuk mengatasi hal ini, guru tersebut ingin menggunakan pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) yang memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menghasilkan lulusan yang berkarakter unggul dan berdaya saing. Dalam proses pembelajaran ini, guru harus memilih strategi yang tepat agar siswa dapat mengaitkan materi klasifikasi hadis dengan konteks kehidupan mereka saat ini.

Bagaimana strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru PAI untuk menerapkan pendekatan PjBL dalam pengajaran klasifikasi hadis agar relevan dengan perkembangan zaman?

a)

Mengadakan proyek kelompok di mana siswa meneliti contoh-contoh hadis dan menyajikan temuan mereka dalam bentuk presentasi digital yang menarik

b)

Menugaskan siswa membuat jurnal refleksi tentang pengalaman mereka dalam mempelajari klasifikasi hadis dan bagaimana hal tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari

c)

Mengadakan lokakarya di mana siswa bersama-sama menyusun sebuah buku panduan tentang klasifikasi hadis yang relevan dengan isu-isu modern

d)

Menggunakan platform pembelajaran online untuk memfasilitasi diskusi interaktif tentang klasifikasi hadis dan penerapannya dalam konteks sosial saat ini

e)

Meminta siswa membuat proyek video kreatif yang menggambarkan klasifikasi hadis, diikuti dengan sesi tanya jawab untuk mendalami pemahaman mereka

28.

hubungan antara takdir dengan iman kepada hari akhir. Namun, materi ini sering kali dianggap kurang relevan dengan perkembangan zaman yang serba cepat dan modern. Dalam upaya menciptakan suasana belajar yang membahagiakan dan menghasilkan lulusan yang berkarakter unggul dan berdaya saing, guru perlu menerapkan strategi pembelajaran berpendekatan Diferensiasi Based Learning (DBL). Pendekatan ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan metode pengajaran sesuai dengan kebutuhan dan potensi siswa, sehingga setiap siswa dapat merasakan pengalaman belajar yang optimal.

Bagaimana strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru PAI untuk menerapkan pendekatan DBL dalam pengajaran hubungan takdir dengan iman kepada hari akhir agar relevan dengan perkembangan zaman?

a)

Menggunakan platform multimedia yang memungkinkan siswa untuk mengakses beragam sumber informasi tentang takdir dan iman kepada hari akhir, kemudian mendiskusikan temuan mereka dalam kelompok

b)

Menugaskan siswa membuat proyek kreatif yang menggambarkan pemahaman mereka tentang takdir dalam bentuk poster atau video, dan mempresentasikannya di depan kelas

c)

Mengadakan lokakarya interaktif di mana siswa dapat bekerja sama dalam kelompok untuk menyusun pandangan baru tentang hubungan takdir dan iman, serta menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari

d)

Menyelenggarakan diskusi panel antara siswa dan tokoh agama tentang bagaimana konsep takdir dapat dipahami dalam konteks modern, diikuti dengan sesi tanya jawab

e)

Meminta siswa menulis esai reflektif tentang bagaimana mereka mengaitkan konsep takdir dengan pengalaman pribadi mereka, dan berbagi pandangan tersebut dalam kelompok kecil

29.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) ingin memperkenalkan materi tentang mu'jizat, karamah, dan sihir dengan cara yang menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman. Materi ini sering kali dianggap membingungkan dan kurang relevan oleh siswa. Oleh karena itu, guru berencana menggunakan pendekatan Deep Learning (DL) yang memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi materi secara mendalam dan mengaitkannya dengan isu-isu kontemporer. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan dapat mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif dan kritis tentang materi yang diajarkan.

Bagaimana strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru PAI untuk menerapkan pendekatan DL dalam pengajaran mu'jizat, karamah, dan sihir agar siswa dapat mengaitkannya dengan isu-isu kekinian?

a)

Mengadakan sesi studi kasus di mana siswa menganalisis peristiwa sejarah yang melibatkan mu'jizat, karamah, dan sihir, dan membahas relevansinya di era digital

b)

Menyelenggarakan seminar interaktif dengan narasumber ahli yang membahas mu'jizat, karamah, dan sihir, diikuti dengan tugas esai reflektif tentang pembelajaran yang diperoleh

c)

Menugaskan proyek penelitian kelompok di mana siswa menyelidiki pandangan berbagai budaya tentang mu'jizat, karamah, dan sihir, dan menyajikannya dalam bentuk infografis

d)

Memanfaatkan teknologi digital untuk membuat modul pembelajaran interaktif tentang mu'jizat, karamah, dan sihir, yang dapat diakses oleh siswa sebagai sumber belajar mandiri

e)

Mengatur forum diskusi online di mana siswa dapat berbagi dan mendiskusikan pengalaman pribadi mereka terkait fenomena mu'jizat, karamah, dan sihir, dengan panduan dari guru

30.

Materi pembentukan akhlak karimah dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sering kali dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman modern. Guru PAI harus dapat menggunakan model pembelajaran yang adaptif dan inovatif agar siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai akhlak mulia secara efektif. Pendekatan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) dapat menjadi solusi dalam hal ini, dengan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif. Dengan demikian, lulusan diharapkan memiliki karakter unggul dan berdaya saing. Guru berencana untuk menggunakan berbagai teknologi dan metode pedagogis untuk memperkaya pembelajaran.

Bagaimana guru PAI dapat memanfaatkan pendekatan TPACK untuk mengajarkan materi pembentukan akhlak karimah agar relevan dengan perkembangan zaman?

a)

Menggunakan aplikasi simulasi perilaku yang memungkinkan siswa berlatih menerapkan akhlak karimah dalam situasi kehidupan nyata, diikuti dengan refleksi kelompok

b)

Menyusun modul e-learning yang menggabungkan video interaktif dan kuis tentang akhlak karimah, memungkinkan siswa belajar secara mandiri dan berdiskusi di kelas

c)

Mengadakan proyek pembuatan media sosial di mana siswa membagikan konten positif tentang akhlak karimah dan berdiskusi tentang dampaknya

d)

Menyelenggarakan debat online yang mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat mereka mengenai penerapan akhlak karimah di era digital

e)

Menggunakan teknologi augmented reality untuk menciptakan pengalaman belajar interaktif tentang sejarah tokoh-tokoh berakhlak mulia dan relevansinya di masa kini

31.

Seorang guru Pendidikan Agama Islam berusaha menerapkan model pembelajaran berbasis pelayanan bimbingan konseling dalam kelas fiqih. Model ini bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang progresif, di mana setiap siswa dapat menyampaikan pendapat dan bertanya mengenai masalah atau kebingungan yang mereka alami dalam memahami materi. Dengan pendekatan ini, diharapkan pembelajaran dapat lebih menyentuh kebutuhan siswa dan membantu mereka menjadi lulusan yang berkarakter unggul dan berdaya saing.

Bagaimana cara terbaik bagi guru untuk menerapkan model pembelajaran berbasis pelayanan bimbingan konseling agar efektif dalam pembelajaran fiqih?

a)

  1. Mengadakan sesi bimbingan konseling secara massal tanpa memperhatikan kebutuhan individu siswa

b)

  1. Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendiskusikan materi secara berkelompok dan berbagi pengalaman

c)

  1. Menyediakan waktu konsultasi di luar jam pelajaran bagi siswa yang ingin mendiskusikan masalah pribadi

d)

  1. Memfokuskan bimbingan hanya pada siswa yang berprestasi untuk meningkatkan nilai mereka

e)

  1. Mengabaikan masukan siswa karena dianggap tidak relevan dengan kurikulum yang ada

32.

Seorang guru Pendidikan Agama Islam berupaya menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk menciptakan lingkungan belajar yang akomodatif. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, mendapatkan pemahaman yang baik tentang hak-hak rakyat dalam perspektif Islam. Dengan lingkungan yang inklusif, diharapkan siswa dapat berkembang menjadi individu yang berkarakter unggul dan memiliki daya saing tinggi di masyarakat.

Bagaimana cara terbaik bagi guru untuk menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis pelayanan ABK agar efektif dalam pembelajaran hak-hak rakyat dalam perspektif Islam?

a)

Menyediakan materi pembelajaran yang sama untuk semua siswa tanpa memperhatikan kebutuhan khusus mereka

b)

Membuat kelompok belajar yang heterogen dan memberikan bimbingan individual sesuai kebutuhan masing-masing siswa

c)

  1. Mengadakan sesi bimbingan khusus hanya untuk siswa dengan prestasi akademik tinggi

d)

Mengabaikan perbedaan kebutuhan siswa dan berfokus pada pencapaian kurikulum yang seragam

e)

  1. Memberikan penilaian yang sama untuk semua siswa tanpa mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan individual mereka

33.

Seorang guru Pendidikan Agama Islam berupaya menerapkan pendekatan pembelajaran yang relevan untuk menyajikan materi kepemimpinan Islam. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, di mana siswa dapat mengaitkan konsep kepemimpinan Islam dengan situasi nyata di dunia modern. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan mampu bersaing di tingkat global. Pendekatan ini juga diharapkan dapat membentuk lulusan yang berkarakter unggul dan berdaya saing.

Apa pendekatan terbaik yang dapat diterapkan oleh guru untuk menyampaikan materi kepemimpinan Islam agar efektif dan relevan bagi siswa?

a)

  1. Menyajikan materi menggunakan teknologi digital untuk menghadirkan tokoh-tokoh kepemimpinan Islam tanpa diskusi lebih lanjut

b)

  1. Menggabungkan teori kepemimpinan Islam dengan simulasi peran dan debat tentang masalah kepemimpinan kontemporer

c)

  1. Menyediakan materi tertulis yang kaya akan sejarah kepemimpinan Islam tanpa memberikan konteks situasi saat ini

d)

  1. Memfokuskan pembelajaran pada kepemimpinan sekular populer tanpa memasukkan unsur-unsur nilai Islam

e)

  1. Memberikan penugasan kelompok yang mendukung kolaborasi tetapi tidak membahas relevansi nilai Islam dalam kepemimpinan

34.

Seorang guru Pendidikan Agama Islam berupaya menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi untuk materi pendidikan karakter. Pendekatan ini bertujuan untuk memanfaatkan teknologi sebagai alat pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih mudah memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan digital yang selaras dengan nilai-nilai moral, sehingga mereka dapat menjadi individu yang berkarakter unggul dan berdaya saing di era digital.

Bagaimana cara terbaik bagi guru untuk menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi agar efektif dalam pendidikan karakter?

a)

Menggunakan aplikasi pembelajaran interaktif yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri tanpa interaksi langsung dengan guru

b)

Mengintegrasikan teknologi dengan kegiatan kolaboratif yang menekankan pengembangan nilai-nilai moral dan kerja tim

c)

Mengandalkan video pembelajaran dengan fokus pada teori tanpa memberikan kesempatan untuk refleksi pribadi

d)

Memfokuskan pembelajaran pada penggunaan teknologi tanpa memasukkan unsur-unsur nilai karakter

e)

Memberikan tugas berbasis teknologi yang menuntut siswa bekerja sendiri tanpa kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman

35.

Pembelajaran mengenai Islam sebagai agama moderat sering kali disampaikan dengan cara yang kurang variatif dan tidak menarik bagi siswa. Materi yang disampaikan cenderung fokus pada teori tanpa menyertakan aplikasi praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini menyebabkan siswa merasa kesulitan untuk mengaitkan ajaran Islam moderat dengan tantangan zaman modern. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif dan relevan agar siswa dapat memahami konsep Islam moderat dengan lebih baik. Dengan demikian, diharapkan siswa dapat mengembangkan karakter yang unggul dan memiliki daya saing tinggi di masyarakat.

Apa pendekatan terbaik yang dapat diterapkan untuk menyajikan materi Islam sebagai agama moderat agar lebih relevan dan menarik bagi siswa?

a)

  1. Menggunakan metode ceramah yang fokus pada teori-teori klasik tanpa memberikan kesempatan untuk diskusi atau refleksi

b)

  1. Mengintegrasikan contoh-contoh moderasi Islam dalam kehidupan sehari-hari melalui proyek dan kegiatan kolaboratif

c)

  1. Menyediakan materi tertulis yang kaya akan teori tanpa memberikan konteks aplikasi praktis di zaman modern

d)

  1. Mengganti materi lama dengan fokus pada isu-isu modern tanpa memasukkan unsur-unsur ajaran Islam

e)

  1. Memberikan tugas individu yang mendorong siswa mencari informasi sendiri tanpa bimbingan atau arahan dari guru

36.

Pak Syafi'i, guru PAI kelas XII, mengampu materi kajian Tafsir dengan topik Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat (Modul Profesional). Untuk memastikan siswa mampu menganalisis implikasi ayat-ayat tersebut secara kontekstual, Pak Syafi'i menerapkan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL). Sintaks PBL yang ia gunakan meliputi:

Orientasi Masalah: Siswa disajikan kasus miskonsepsi ekstrem tentang salah satu ayat mutasyabihat yang viral di media sosial.

Mengorganisasi Siswa: Siswa dibagi kelompok untuk merumuskan masalah dan hipotesis.

Membimbing Penyelidikan: Siswa mencari berbagai referensi tafsir (tematik, muqaran) untuk mendapatkan solusi.

Mengembangkan dan Menyajikan Hasil: Siswa merumuskan jawaban terhadap miskonsepsi dan membuat output pemecahan masalah.

Pak Syafi'i ingin menilai keterampilan kolaborasi dan presentasi siswa (saat menyajikan hasil) serta pengetahuan konseptual siswa (pemahaman mereka tentang Ushul Tafsir).

Manakah kombinasi teknik asesmen yang paling tepat dan efektif yang harus digunakan Pak Syafi'i untuk mengukur keterampilan kolaborasi, presentasi, dan pengetahuan konseptual siswa dalam Tahap 4 PBL tersebut?

a)

Menggunakan Penilaian Diri (Self-Assessment) untuk mengukur keterampilan kolaborasi, Tes Tertulis Pilihan Ganda untuk mengukur pengetahuan konseptual, dan Jurnal Harian untuk mengukur keterampilan presentasi

b)

Menggunakan Lembar Observasi Peer Assessment (penilaian sesama) saat siswa bekerja dalam kelompok, Tes Lisan Berjenjang untuk mengukur pengetahuan konseptual, dan Jurnal Refleksi untuk mengukur keterampilan presentasi

c)

Menggunakan Rubrik Penilaian Kinerja Presentasi (Aspek: sistematika, kejelasan, argumentasi) untuk mengukur keterampilan presentasi, Penilaian Proyek untuk mengukur keterampilan kolaborasi, dan Tes Tulis Uraian Berbasis Kasus (HOT) untuk mengukur pengetahuan konseptual

d)

Menggunakan Angket Sikap untuk mengukur keterampilan kolaborasi, Portofolio berisi semua catatan siswa untuk mengukur pengetahuan konseptual, dan Tes Uji Coba Keterampilan untuk mengukur keterampilan presentasi

e)

Menggunakan Penilaian Jurnal Harian untuk mengukur keterampilan presentasi, Lembar Observasi Sikap untuk mengukur keterampilan kolaborasi, dan Tes Isian Singkat untuk mengukur pengetahuan konseptual

37.

Ibu Aisyah, guru PAI kelas XI, mengajarkan materi Kriteria Kesahihan Hadis (Modul Profesional) yang bertujuan agar siswa mampu membedakan hadis Shahih, Hasan, dan Dhaif serta mengontekstualisasikannya dengan Kearifan Lokal (misalnya, tradisi Haul atau Tahlilan). Ibu Aisyah menerapkan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) dengan tugas akhir berupa E-Booklet Digital Komparasi Hadis yang mencakup:

Tahap Perencanaan: Merumuskan judul dan outline E-Booklet.

Tahap Pelaksanaan: Mengumpulkan dan menganalisis matan serta sanad hadis.

Tahap Evaluasi Proyek: Mencetak dan mempresentasikan E-Booklet tersebut.

Ibu Aisyah ingin memastikan instrumen asesmen yang digunakan tepat untuk mengukur keterampilan manajemen proyek dan penyelesaian proyek digital (saat membuat E-Booklet) serta pengetahuan prosedural dan konseptual (pemahaman kriteria hadis).

Manakah kombinasi instrumen asesmen yang paling tepat dan efektif yang harus digunakan Ibu Aisyah untuk mengukur keterampilan Proyek Digital dan pengetahuan prosedural siswa sepanjang Tahap PjBL tersebut?

a)

Menggunakan Tes Lisan Hafalan untuk mengukur keterampilan proyek digital, dan Jurnal Harian untuk mengukur pengetahuan prosedural siswa

b)

Menggunakan Rubrik Penilaian Portofolio berisi catatan harian siswa tentang tugas, Lembar Observasi Sikap, dan Tes Isian Singkat tentang definisi hadis

c)

Menggunakan Lembar Penilaian Proyek yang mencakup aspek orisinalitas, estetika desain digital, dan kelengkapan konten untuk mengukur keterampilan Proyek Digital, serta Tes Uraian Analitis untuk mengukur pengetahuan prosedural dan konseptual

d)

Menggunakan Angket Minat Belajar untuk mengukur keterampilan proyek digital, dan Penilaian Diri (Self-Assessment) untuk mengukur pengetahuan prosedural tentang kriteria hadis

e)

Menggunakan Penilaian Produk Akhir (E-Booklet) yang hanya berfokus pada jumlah halaman, dan Tes Pilihan Ganda yang berfokus pada fakta-fakta historis para perawi hadis

38.

Seorang guru PAI mengajarkan materi hubungan takdir dengan iman kepada hari akhir di kelas XI. Dalam pembelajaran, guru menggunakan pendekatan Deep Learning dengan mengajak siswa merenungkan pengalaman pribadi mereka ketika menghadapi ujian hidup, lalu menghubungkannya dengan kesadaran bahwa takdir Allah selalu terkait dengan keyakinan akan kehidupan akhirat. Guru juga mengarahkan siswa untuk menulis refleksi singkat tentang bagaimana pemahaman iman kepada takdir dan hari akhir memengaruhi sikap sabar, syukur, dan optimis.

Guru ingin menilai sejauh mana siswa menunjukkan sikap beriman dan reflektif terhadap takdir dan hari akhir sesuai tujuan pembelajaran.

Dari beberapa teknik asesmen berikut, manakah yang paling tepat dipilih guru?

a)

Memberikan soal uraian tentang definisi iman kepada takdir dan hari akhir beserta contohnya

b)

Memberikan kuis pilihan ganda terkait dalil Al-Qur’an tentang takdir dan hari akhir

c)

Menugaskan siswa membuat peta konsep tentang hubungan takdir dengan iman kepada hari akhir

d)

Melakukan observasi sikap siswa melalui lembar penilaian selama diskusi reflektif kelompok

e)

Menguji keterampilan siswa dalam membaca ayat-ayat tentang takdir dengan tartil di depan kelas

39.

Dalam pembelajaran materi mu’jizat, karamah, dan sihir, guru menggunakan pendekatan Deep Learning. Siswa diajak melakukan studi teks dengan meneliti dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis terkait, kemudian mendiskusikan contoh penerapan iman terhadap mu’jizat dan karamah dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, siswa diminta membuat presentasi kelompok untuk menjelaskan perbedaan mendasar antara mu’jizat para nabi, karamah para wali, dan sihir para dukun.

Guru ingin melakukan asesmen untuk mengetahui pengetahuan konseptual dan keterampilan presentasi siswa.

Instrumen asesmen apa yang paling sesuai untuk tujuan tersebut?

a)

Tes pilihan ganda yang mengukur pemahaman konsep mu’jizat, karamah, dan sihir

b)

Angket sikap sederhana tentang kepercayaan siswa terhadap mu’jizat dan karamah

c)

Tes lisan hafalan hadis tentang larangan mendekati perbuatan sihir dan perdukunan

d)

Portofolio catatan siswa mengenai ringkasan materi mu’jizat, karamah, dan sihir

e)

Rubrik penilaian presentasi kelompok yang menilai isi materi dan keterampilan siswa

40.

Guru PAI mengajarkan materi pembentukan akhlak karimah dengan pendekatan joyful learning. Siswa dibagi dalam kelompok untuk membuat drama singkat yang menampilkan akhlak mulia seperti jujur, sabar, dan saling menghormati. Setelah pementasan drama, guru mengajak siswa melakukan diskusi reflektif tentang nilai-nilai akhlak yang ditampilkan. Guru ingin menilai kemampuan siswa dalam memahami konsep akhlak sekaligus keterampilan menyajikan drama.

Instrumen asesmen apa yang paling sesuai untuk tujuan tersebut?

a)

Rubrik penilaian performa yang menilai isi drama dan keterampilan siswa bermain peran

b)

Tes uraian tentang definisi akhlak karimah dan hikmah dalam kehidupan sehari-hari

c)

Angket sikap untuk mengetahui pandangan siswa terhadap penerapan akhlak mulia

d)

Tes lisan berupa pertanyaan singkat tentang ciri-ciri akhlak karimah menurut hadis

e)

Portofolio berisi kumpulan karya siswa terkait materi pembelajaran akhlak karimah

41.

Guru PAI mengajarkan materi fiqih kontemporer tentang zakat produktif. Siswa diminta membuat rancangan program sederhana tentang pemanfaatan zakat untuk usaha mikro masyarakat, lalu mempresentasikan di depan kelas. Dalam kegiatan tersebut, guru menilai apakah siswa memahami konsep zakat produktif serta mampu menyampaikan gagasan kreatif dalam bentuk presentasi kelompok. Guru ingin melakukan asesmen yang dapat menilai pengetahuan konseptual dan keterampilan presentasi siswa sekaligus.

Instrumen asesmen apa yang paling sesuai untuk tujuan pembelajaran tersebut?

a)

Tes uraian tentang pengertian zakat produktif beserta manfaatnya bagi masyarakat Islam

b)

Rubrik penilaian presentasi yang menilai isi gagasan dan keterampilan penyajian siswa

c)

Angket sikap tentang kepedulian siswa terhadap pemanfaatan zakat bagi masyarakat

d)

Tes pilihan ganda mengenai syarat-syarat sah zakat produktif dalam hukum Islam

e)

Portofolio berisi kumpulan tulisan siswa tentang zakat produktif pada masa modern

42.

Dalam pembelajaran hak-hak rakyat dalam perspektif Islam, guru PAI mengawali dengan diskusi tentang kewajiban pemimpin dalam menegakkan keadilan, menyalurkan zakat, dan melindungi hak kaum lemah. Pada pertemuan sebelumnya, guru sudah melakukan asesmen pengetahuan dasar siswa melalui tes tertulis tentang dalil Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan hak rakyat. Kali ini guru ingin menilai sikap kepedulian sosial siswa terhadap realitas di sekitar mereka, khususnya mengenai hak fakir miskin yang belum terpenuhi.

Teknik asesmen apa yang paling sesuai untuk digunakan guru setelah hasil asesmen pengetahuan sebelumnya tersedia?

a)

Tes lisan dengan pertanyaan singkat tentang kewajiban pemimpin menunaikan hak rakyat

b)

Observasi sikap siswa saat melakukan diskusi kelompok mengenai hak fakir miskin

c)

Tes pilihan ganda yang menanyakan dalil-dalil tentang hak-hak rakyat dalam Islam

d)

Penilaian portofolio dari kumpulan ringkasan materi siswa tentang hak-hak sosial

e)

Ujian uraian analitis tentang perbedaan hak individu dan hak rakyat dalam Islam

43.

Seorang guru PAI sedang mengajar materi tentang perkembangan kepemimpinan dalam Islam, mulai dari masa Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin hingga masa dinasti Umayyah. Pada pertemuan sebelumnya, guru telah melakukan asesmen pengetahuan tentang tokoh-tokoh utama kepemimpinan dan peran mereka dalam perkembangan umat Islam. Hasil asesmen menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sudah memahami teori dasar, tetapi masih kesulitan dalam mengaitkan konsep kepemimpinan dengan nilai sikap yang terkandung. Guru ingin merancang asesmen lanjutan yang dapat mengukur aspek sikap siswa dalam mempraktekkan nilai kepemimpinan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dari hasil situasi tersebut, instrumen asesmen manakah yang paling tepat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran pada pertemuan berikutnya?

a)

Tes objektif pilihan ganda yang menguji penguasaan fakta dan definisi kepemimpinan Islam secara detail

b)

Observasi perilaku siswa dalam diskusi kelompok mengenai sikap kepemimpinan yang diteladani para khalifah terdahulu

c)

Ujian tulis esai yang meminta siswa menganalisis perbedaan kepemimpinan Nabi Muhammad dan khalifah sebelum dinasti Umayyah

d)

Penugasan proyek pembuatan makalah yang mengeksplorasi dinamika politik dan sosial masa kepemimpinan Islam klasik

e)

Tes lisan individual yang menilai kemampuan siswa menjawab pertanyaan teori kepemimpinan Islam dengan tepat

44.

Seorang guru pendidikan nilai sedang mengajar tentang pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Pada asesmen awal, guru telah memberikan tes pengetahuan yang menunjukkan sebagian besar siswa memahami definisi dan manfaat kejujuran secara teoretis. Namun, guru juga mencatat dari observasi bahwa beberapa siswa terkadang menunjukkan perilaku tidak jujur dalam situasi praktis di kelas, seperti menyontek atau berbohong kecil. Guru ingin melanjutkan asesmen dengan teknik yang dapat menggali sikap dan kemampuan siswa untuk menerapkan nilai kejujuran dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan situasi tersebut, teknik asesmen manakah yang paling tepat digunakan guru untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang penerapan nilai kejujuran siswa?

a)

Tes uraian yang meminta siswa menjelaskan akibat negatif dari perilaku tidak jujur bagi diri sendiri dan lingkungan

b)

Observasi perilaku siswa selama kegiatan kelompok yang menuntut saling percaya dan kerja sama

c)

Simulasi situasi dilematis yang menguji kemampuan siswa memilih sikap jujur dalam menghadapi masalah

d)

Tes pilihan ganda yang mengukur pengetahuan konseptual siswa tentang nilai kejujuran dan etika

e)

Penilaian diri berupa jurnal refleksi harian yang merekam pengalaman siswa dalam berperilaku jujur di sekolah

45.

Dalam pembelajaran materi Islam sebagai agama yang moderat, guru PAI telah melakukan asesmen awal dengan menggunakan tes pengetahuan tentang prinsip-prinsip moderasi dalam Islam, seperti toleransi, keseimbangan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Hasil tes menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memahami konsep dasar tersebut, tetapi observasi guru mencatat adanya sikap kurang toleran dalam diskusi tentang perbedaan keyakinan di antara siswa. Guru ingin memilih instrumen asesmen yang dapat menggali sikap siswa secara lebih mendalam tentang nilai-nilai moderat dalam praktik sosial.

Berdasarkan situasi tersebut, instrumen asesmen manakah yang paling tepat dipilih guru untuk mengembangkan pemahaman dan sikap toleran siswa?

a)

Tes pilihan ganda yang menguji kembali penguasaan siswa terhadap konsep moderasi dalam Islam secara komprehensif

b)

Observasi aktif saat siswa berdiskusi tentang sikap moderat dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari

c)

Penugasan tertulis yang meminta siswa menguraikan pentingnya moderasi dalam menjaga kerukunan umat beragama

d)

Wawancara individual untuk mengeksplorasi pandangan dan sikap siswa terhadap perbedaan dalam masyarakat

e)

Kuis online singkat yang menguji ingatan siswa terhadap definisi dan nilai moderasi dalam Islam

46.

Dalam membahas fiqih kontemporer khususnya isu keuangan syariah, guru PAI menggunakan teknologi multimedia untuk menyajikan video dan grafik yang interaktif. Namun, guru kurang memperhatikan bahwa tidak semua siswa memiliki akses internet stabil, sehingga beberapa siswa tidak bisa mengikuti proses secara optimal. Selain itu, guru belum mengintegrasikan aspek pedagogi yang mendorong kerja sama siswa, sehingga pembelajaran lebih bersifat satu arah. Guru ingin merancang ulang pembelajaran agar lebih inklusif dan mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara berkelanjutan.

Praktik terbaik apa yang sebaiknya diperbaiki guru dalam merencanakan pembelajaran berikutnya?

a)

Menyediakan bahan pembelajaran dalam beberapa format offline dan online untuk mengakomodasi berbagai kondisi siswa

b)

Mengurangi penggunaan teknologi karena dapat membatasi akses siswa dengan koneksi lemah

c)

Meningkatkan durasi penggunaan multimedia sehingga semua siswa mendapat materi secara lengkap meskipun harus menunggu giliran

d)

Fokus pada metode ceramah supaya tidak tergantung pada kesiapan teknologi siswa

e)

Menggantikan pembelajaran kelompok dengan tugas individual agar dapat lebih mudah dikontrol

47.

Seorang guru PAI mengajar materi perkembangan kepemimpinan Islam, mulai dari era Nabi Muhammad SAW hingga masa Khulafaur Rasyidin. Dalam menyusun konten, guru menggunakan sumber yang sangat teoretis dan kering tanpa mengaitkan cerita sejarah yang menarik atau aplikasi nilai kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga mengandalkan teknologi pembelajaran berupa presentasi slide statis, tanpa fitur interaktif, sehingga respons siswa kurang antusias. Pedagogi yang diterapkan lebih banyak ceramah tanpa melibatkan diskusi kelompok atau aktivitas reflektif.

Dari kondisi tersebut, praktik pembelajaran apa yang harus diterapkan guru agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berkualitas secara berkelanjutan?

a)

Mengintegrasikan narasi sejarah yang menarik dan studi kasus kepemimpinan sambil melibatkan teknologi interaktif seperti kuis digital

b)

Memperbanyak penggunaan presentasi slide untuk memastikan materi tersampaikan lengkap dan rinci kepada siswa

c)

Fokus pada ceramah mendalam agar siswa mendapatkan informasi teori kepemimpinan secara sempurna tanpa gangguan

d)

Mengganti teknologi dengan metode tradisional seperti papan tulis agar siswa lebih fokus tanpa distraksi

e)

Menambahkan materi terbaru seputar kepemimpinan modern tanpa memperhatikan cara penyampaian agar pembelajaran up-to-date

48.

Seorang guru PAI merancang pembelajaran materi pembentukan akhlak karimah dengan menggunakan teknologi berupa aplikasi simulasi situasi sehari-hari yang mengandung nilai kejujuran dan amanah. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru menyajikan narasi tentang seorang siswa yang menghadapi dilema moral: apakah akan melaporkan temannya yang menyontek saat ujian atau tidak. Guru mendorong siswa berdiskusi dalam kelompok dan melakukan refleksi diri menggunakan jurnal digital yang nantinya akan dievaluasi secara berkala. Namun, guru menemui masalah bahwa sebagian siswa hanya fokus pada teknologi aplikasi tanpa mengkaji nilai moral yang terkandung, sedangkan evaluasi akhir hanya berupa kuis pilihan ganda tanpa ada penilaian proses.

Berdasarkan situasi tersebut, praktik evaluasi pembelajaran yang paling tepat untuk diterapkan guru agar memastikan pembelajaran akhlak berjalan berkualitas dan berkelanjutan adalah...

a)

Memperbanyak tes pilihan ganda secara digital agar penilaian dapat dilakukan lebih cepat dan mahasiswa lebih termotivasi oleh teknologi yang digunakan

b)

Menambahkan penilaian portofolio berupa jurnal refleksi digital dan diskusi kelompok untuk menilai proses pemahaman dan internalisasi nilai akhlak

c)

Mengganti aplikasi simulasi dengan video penayangan dari materi akhlak secara langsung agar siswa lebih fokus pada konten pembelajaran

d)

Memberikan tugas esai setelah pembelajaran dengan penilaian berdasarkan kreativitas dan kedalaman pemahaman siswa terhadap nilai akhlak tanpa menggunakan aplikasi digital

e)

Mengurangi penggunaan teknologi dan lebih sering menggunakan metode ceramah dan tanya jawab langsung agar guru dapat memantau setiap respon siswa

49.

Seorang guru PAI di era digital dan AI menghadapi tantangan besar dalam menguasai materi pembelajaran yang terus berkembang pesat. Guru tersebut sudah menggunakan berbagai sumber digital, termasuk modul online dan aplikasi AI untuk membantu menyampaikan materi, namun merasa kesulitan memilih informasi yang valid dan relevan serta menyesuaikan dengan kebutuhan siswa. Guru ini juga sadar pentingnya pengembangan kompetensi secara bertahap agar bisa beradaptasi dengan cepat. Meski demikian, guru merasa kurang percaya diri karena kurang menguasai teknologi pendukung pengajaran secara maksimal.

Berdasarkan skenario tersebut, modal pengembangan diri guru yang paling berperan dalam meningkatkan penguasaan materi di era digital dan AI adalah...

a)

Melakukan pelatihan intensif terkait teknologi dan sumber belajar digital agar mampu memilih bahan ajar yang tepat dan terpercaya

b)

Mengandalkan pengalaman lama dan metode tradisional karena teknologi digital seringkali membingungkan dan kurang efektif

c)

Membangun komunitas belajar daring dengan rekan guru untuk saling berbagi strategi, materi, dan solusi praktis dalam era digital

d)

Menggunakan teknologi AI secara langsung tanpa pembelajaran lebih lanjut, dengan harapan dapat otomatis meningkatkan kualitas pengajaran

e)

Mengurangi penggunaan teknologi dan kembali fokus pada buku cetak karena sumber belajar digital kadang tidak terpercaya

50.

Dalam pembelajaran PAI, guru menerapkan teknologi AI untuk memberikan umpan balik otomatis terhadap tugas-tugas siswa. Namun, guru menemukan bahwa meski umpan balik tersebut cepat dan akurat, peserta didik Gen Z dan Alpha kurang termotivasi untuk melakukan perbaikan mandiri karena umpan balik bersifat generik dan kurang personal. Guru ingin melakukan perbaikan agar penggunaan AI dapat lebih bermakna dan cocok dengan karakteristik gaya belajar siswa yang butuh pendekatan lebih personal dan reflektif.

Strategi ilmiah yang paling tepat dan mencerminkan jati diri guru profesional untuk mengatasi masalah ini adalah...

a)

Mengembangkan sistem AI yang dilengkapi dengan algoritma personalisasi untuk memberi umpan balik yang spesifik dan memotivasi

b)

Mengurangi penggunaan AI dan menggantinya dengan evaluasi manual secara menyeluruh oleh guru

c)

Memberi nilai langsung tanpa umpan balik untuk menghemat waktu guru dan siswa fokus ke materi berikutnya

d)

Meminta siswa mendiskusikan umpan balik AI dalam kelompok tanpa campur tangan guru untuk mengasah kemandirian

e)

Mengabaikan umpan balik jika siswa kurang termotivasi dan berfokus pada penilaian akhir saja