wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

TO 5 PPG ANGKATAN 4 T. 2025

Total questions: 10

Worksheet time: 5mins

Name
Class
Date
1.

Pak Ahmad adalah guru Qur'an Hadis di SMA Negeri 5 Jakarta yang sedang merencanakan pembelajaran tentang "Pengertian Al-Qur'an, Wahyu, Ilham, dan Ta'lim" untuk siswa kelas X. Dalam observasi awal, ia menemukan bahwa sebagian besar siswanya memiliki pemahaman yang masih dangkal tentang perbedaan konsep-konsep tersebut. Banyak siswa yang menganggap wahyu, ilham, dan ta'lim adalah hal yang sama. Pak Ahmad menyadari bahwa materi ini sangat fundamental untuk membangun keimanan dan ketakwaan siswa, sehingga ia perlu merumuskan tujuan pembelajaran ranah sikap yang tepat. Ia ingin siswanya tidak hanya memahami secara kognitif, tetapi juga mengalami transformasi spiritual yang mendalam melalui penghayatan terhadap keagungan Al-Qur'an sebagai wahyu Allah SWT. Rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai dengan indikator untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia siswa adalah:

a)

Siswa dapat menganalisis perbedaan konseptual antara Al-Qur'an, wahyu, ilham, dan ta'lim dengan menggunakan metode komparatif untuk meningkatkan pemahaman teoritis mereka.

b)

Siswa dapat menunjukkan sikap penghargaan dan kekhusyukan terhadap Al-Qur'an sebagai wahyu Allah SWT melalui perilaku yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

c)

Siswa dapat membedakan karakteristik Al-Qur'an, wahyu, ilham, dan ta'lim berdasarkan definisi yang telah ditetapkan oleh para ulama dalam kitab-kitab klasik.

d)

Siswa dapat menyusun tabel perbandingan antara Al-Qur'an, wahyu, ilham, dan ta'lim dengan menggunakan teknologi digital untuk presentasi di depan kelas.

e)

Siswa dapat menghafal definisi Al-Qur'an, wahyu, ilham, dan ta'lim sesuai dengan terminologi yang terdapat dalam buku paket resmi Kementerian Agama.

2.

Bu Siti mengajar mata pelajaran Qur'an Hadis di MAN 3 Bandung dan sedang mempersiapkan pembelajaran tentang "Ulum al-Hadis" untuk siswa kelas XI. Dalam asesmen diagnostik, ia menemukan bahwa siswa-siswanya cenderung menerima informasi begitu saja tanpa melakukan verifikasi atau analisis kritis. Hal ini menjadi keprihatinan Bu Siti karena di era digital saat ini, banyak beredar informasi yang mengatasnamakan hadis tetapi tidak memiliki validitas yang kuat. Bu Siti menyadari pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa agar mereka dapat membedakan hadis yang sahih dari yang tidak sahih. Ia ingin merancang tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang dapat mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan bernalar kritis dan kreatif dalam memahami dan menganalisis hadis-hadis Nabi SAW. Rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai dengan indikator agar siswa mampu berpikir kritis adalah:

a)

Siswa dapat menghafal nama-nama kitab hadis yang termasuk dalam kutub al-sittah beserta nama pengarangnya dengan tingkat akurasi minimal 90 persen.

b)

Siswa dapat menganalisis kualitas sanad dan matan hadis menggunakan kaidah-kaidah ulum al-hadis untuk menentukan tingkat kesahihan suatu riwayat secara objektif dan sistematis.

c)

Siswa dapat menyebutkan definisi ulum al-hadis menurut pendapat para ulama hadis klasik dan kontemporer dengan menggunakan bahasa Arab dan terjemahannya.

d)

Siswa dapat membuat mind mapping tentang cabang-cabang ilmu hadis dengan menggunakan aplikasi digital untuk memudahkan proses pembelajaran dan pemahaman materi.

e)

Siswa dapat mengklasifikasikan jenis-jenis hadis berdasarkan kuantitas perawi dengan mengacu pada pembagian yang terdapat dalam buku-buku ulum al-hadis standar.

3.

Pak Budi adalah guru Qur'an Hadis di SMA Islam Terpadu Al-Azhar yang sedang mengembangkan pembelajaran tentang "Sejarah Pertumbuhan dan Penghimpunan Hadis" untuk siswa kelas XII. Dalam pengamatannya, ia melihat bahwa siswa-siswanya cenderung individualistis dan kurang memiliki semangat kerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Padahal, materi tentang sejarah penghimpunan hadis sangat kaya dengan nilai-nilai kolaborasi, seperti bagaimana para ulama hadis bekerja sama lintas generasi dan wilayah untuk melestarikan sunnah Rasulullah SAW. Pak Budi ingin memanfaatkan momentum pembelajaran ini untuk menumbuhkan semangat gotong royong di antara siswanya. Ia merencanakan aktivitas pembelajaran yang melibatkan kerja kelompok dalam menelusuri jejak perjalanan para muhaddis dalam mengumpulkan dan memverifikasi hadis-hadis Nabi SAW. Rumusan tujuan pembelajaran ranah keterampilan yang paling sesuai dengan indikator agar siswa memiliki semangat gotong royong adalah:

a)

Siswa dapat menyusun timeline kronologis tentang sejarah penghimpunan hadis dari masa Nabi SAW hingga era kodifikasi dengan menggunakan sumber-sumber literatur yang valid.

b)

Siswa dapat berkolaborasi dalam proyek penelusuran jejak perjalanan para muhaddis untuk mengumpulkan dan memverifikasi hadis dengan menunjukkan sikap saling mendukung dan berbagi tanggung jawab.

c)

Siswa dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ilmu hadis pada periode klasik, pertengahan, dan kontemporer dengan analisis yang komprehensif.

d)

Siswa dapat mengevaluasi kontribusi para tokoh muhaddis terhadap perkembangan ilmu hadis dengan menggunakan metode analisis biografis dan bibliografis yang sistematis.

e)

Siswa dapat mempresentasikan hasil kajian tentang metodologi penghimpunan hadis yang digunakan oleh para ulama dengan menggunakan media presentasi yang menarik dan informatif.

4.

Bu Aisyah mengajar di MA Negeri 2 Yogyakarta dan sedang mengembangkan pembelajaran tentang "Metode Tafsir Tematik" untuk siswa kelas XI IPS. Dalam konteks sekolah yang berlatar belakang multikultural dengan siswa dari berbagai daerah di Indonesia, Bu Aisyah menghadapi tantangan dalam mengajarkan materi tafsir yang dapat diterima oleh siswa dengan latar belakang budaya yang beragam. Beberapa siswa menunjukkan resistensi terhadap interpretasi Al-Qur'an yang berbeda dari tradisi keluarga mereka. Bu Aisyah menyadari bahwa metode tafsir tematik sebenarnya dapat menjadi jembatan untuk menunjukkan bagaimana Al-Qur'an dapat dipahami dengan pendekatan yang beragam namun tetap dalam koridor yang benar. Ia ingin mengembangkan sikap penerimaan siswa terhadap keragaman tradisi penafsiran yang ada dalam khazanah Islam, sambil tetap menjaga prinsip-prinsip dasar dalam memahami Al-Qur'an. Rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah sikap yang paling sesuai dengan materi agar siswa memiliki sikap penerimaan terhadap tradisi adalah:

a)

Siswa dapat menghafalkan langkah-langkah metodologi tafsir tematik sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia dalam fatwa-fatwanya.

b)

Siswa dapat menunjukkan sikap terbuka dan menghargai keragaman pendekatan dalam penafsiran Al-Qur'an sambil tetap berpegang pada kaidah-kaidah tafsir yang sahih.

c)

Siswa dapat mengkritisi metode-metode tafsir yang tidak sesuai dengan pemahaman mainstream dengan menggunakan argumentasi yang kuat dan referensi yang valid.

d)

Siswa dapat menyusun perbandingan antara metode tafsir tematik dengan metode tafsir lainnya menggunakan tabel analisis yang sistematis dan komprehensif.

e)

Siswa dapat menerapkan metode tafsir tematik untuk memecahkan permasalahan kontemporer dengan mengacu pada pendapat ulama yang telah diakui kredibilitasnya.

5.

Pak Hasan adalah guru Qur'an Hadis di SMA Negeri 10 Surabaya yang sedang merancang pembelajaran tentang "Konsep Tawassuth dalam Al-Qur'an dan Hadis" untuk siswa kelas XII IPA. Dalam era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, ia mengamati bahwa siswa-siswanya cenderung berpikir hitam-putih dan sulit menerima konsep keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka sering terjebak dalam pemikiran ekstrem, baik dalam memahami ajaran agama maupun dalam menyikapi perkembangan zaman. Pak Hasan melihat bahwa konsep tawassuth yang terkandung dalam Al-Qur'an dan hadis sangat relevan untuk mengembangkan pola pikir siswa yang lebih dinamis dan inovatif. Ia ingin siswanya dapat memahami bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dan moderasi, serta dapat mengaplikasikan prinsip ini dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah dengan solusi-solusi kreatif dan inovatif. Rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang paling sesuai dengan indikator agar siswa memiliki kemampuan berpikir dinamis dan inovatif adalah:

a)

Siswa dapat menghafal ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis yang berkaitan dengan konsep tawassuth beserta terjemahan dan asbabul nuzul atau asbabul wurudnya.

b)

Siswa dapat menganalisis relevansi konsep tawassuth dalam Al-Qur'an dan hadis untuk mengembangkan solusi inovatif terhadap permasalahan kontemporer dengan pendekatan yang seimbang.

c)

Siswa dapat mengklasifikasikan ayat-ayat dan hadis-hadis tentang tawassuth berdasarkan tema-tema tertentu dengan menggunakan metode kategorisasi yang sistematis.

d)

Siswa dapat menyebutkan definisi tawassuth menurut para ulama tafsir dan syarah hadis dengan merujuk pada kitab-kitab klasik dan kontemporer yang mu'tabar.

e)

Siswa dapat membandingkan konsep tawassuth dalam Islam dengan konsep keseimbangan dalam agama-agama lain menggunakan pendekatan studi komparatif yang objektif.

6.

Pak Rahman adalah guru Qur'an Hadis di SMA Negeri 8 Medan yang sedang merencanakan pembelajaran tentang "Nuzul Al-Qur'an" menggunakan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) untuk siswa kelas X. Dalam asesmen awal, ia menemukan bahwa siswa memiliki pemahaman yang beragam tentang proses turunnya Al-Qur'an, mulai dari yang menganggapnya turun sekaligus hingga yang memahami secara bertahap tetapi tidak mengetahui hikmah di baliknya. Pak Rahman menyadari bahwa materi ini memerlukan analisis mendalam tentang struktur keilmuan ulum Al-Qur'an agar siswa dapat memahami tahapan dan sejarah turunnya Al-Qur'an secara komprehensif. Ia berencana menggunakan kasus-kasus konkret tentang sebab-sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) untuk membantu siswa memahami konteks historis dan relevansinya dengan kehidupan masa kini. Dalam perencanaan ini, Pak Rahman perlu menganalisis materi ajar berdasarkan struktur keilmuan yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan karakteristik peserta didik yang beragam. Analisis materi ajar tahapan atau sejarah turunnya Al-Qur'an berdasarkan struktur keilmuan pada perencanaan tujuan pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristik peserta didik adalah:

a)

Mengorganisir materi berdasarkan kronologi historis turunnya surat-surat Al-Qur'an dari yang pertama hingga terakhir dengan menekankan pada aspek hafalan nama-nama surat dan urutan turunnya untuk memudahkan siswa dalam mengingat secara sistematis.

b)

Menyusun materi dengan pendekatan tematik yang mengelompokkan ayat-ayat berdasarkan periode Makkiyah dan Madaniyah, kemudian menganalisis karakteristik, hikmah, dan relevansinya dengan konteks kehidupan siswa masa kini melalui studi kasus yang kontekstual.

c)

Mengatur materi pembelajaran dengan fokus pada aspek linguistik dan retorika Al-Qur'an, menganalisis struktur bahasa Arab, gaya bahasa, dan keindahan sastra yang terkandung dalam ayat-ayat yang turun pada periode yang berbeda-beda.

d)

Mendesain materi dengan pendekatan komparatif yang membandingkan Al-Qur'an dengan kitab-kitab suci agama lain dari segi proses pewahyuan, struktur teks, dan pengaruhnya terhadap peradaban manusia dalam perspektif akademis yang objektif.

e)

Menyajikan materi melalui pendekatan biografis yang menekankan pada kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai penerima wahyu, dengan menganalisis kondisi sosial, politik, dan budaya masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Qur'an secara detail dan komprehensif.

7.

Bu Fatimah mengajar di MA Negeri 1 Makassar dan sedang melaksanakan pembelajaran tentang "Hadis Dha'if" menggunakan pendekatan Project-Based Learning (PjBL) untuk siswa kelas XI. Dalam pelaksanaan pembelajaran, ia mengamati bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami kriteria-kriteria yang menyebabkan suatu hadis dikategorikan sebagai dha'if. Beberapa siswa bahkan masih mencampuradukkan antara hadis dha'if dengan hadis maudhu' (palsu). Bu Fatimah menyadari pentingnya menganalisis materi ajar tentang kriteria hadis dha'if berdasarkan struktur keilmuan ulum al-hadis yang sistematis. Ia merancang proyek penelitian mini di mana siswa akan menganalisis beberapa contoh hadis dha'if dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kedah'ifannya. Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, Bu Fatimah perlu memastikan bahwa analisis materi ajar sesuai dengan struktur keilmuan dan karakteristik peserta didik yang memiliki tingkat pemahaman yang beragam tentang ilmu hadis. Analisis materi ajar kriteria hadis dha'if berdasarkan struktur keilmuan pada pelaksanaan tujuan pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristik peserta didik adalah:

a)

Mengimplementasikan pembelajaran dengan fokus pada penghafalan nama-nama perawi yang dha'if beserta sebab-sebab kedah'ifannya, kemudian meminta siswa membuat daftar lengkap perawi dha'if yang terdapat dalam kitab-kitab rijal al-hadis klasik untuk memperkuat memori mereka.

b)

Melaksanakan pembelajaran melalui analisis sistematis terhadap unsur-unsur sanad dan matan hadis dha'if, menggunakan kaidah-kaidah jarh wa ta'dil untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan yang ada, serta mengkaji implikasi penggunaan hadis dha'if dalam istinbath hukum secara kritis.

c)

Menjalankan pembelajaran dengan pendekatan tekstual yang menekankan pada pembacaan dan terjemahan hadis-hadis dha'if dari kitab-kitab hadis standar, kemudian meminta siswa untuk mengklasifikasikan berdasarkan tema-tema tertentu tanpa analisis mendalam tentang kualitasnya.

d)

Mengorganisir pembelajaran dengan metode ceramah yang menjelaskan teori-teori tentang hadis dha'if menurut pandangan ulama klasik dan kontemporer, kemudian memberikan contoh-contoh hadis dha'if yang sudah dikategorikan oleh para ahli hadis terdahulu.

e)

Menyajikan pembelajaran melalui pendekatan historis yang menelusuri perkembangan konsep hadis dha'if dari masa sahabat hingga era kodifikasi hadis, dengan menekankan pada aspek kronologis dan evolusi pemahaman ulama tentang kriteria kedah'ifan hadis.

8.

Pak Usman adalah guru Qur'an Hadis di SMA Islam Al-Irsyad Bandung yang sedang melakukan evaluasi pembelajaran tentang "Keotentikan Hadis" menggunakan pendekatan Diferensiasi-Based Learning (DBL) untuk siswa kelas XII. Setelah melaksanakan pembelajaran selama beberapa pertemuan, ia perlu mengevaluasi sejauh mana siswa dapat memahami dan mengaplikasikan konsep-konsep yang berkaitan dengan keotentikan hadis. Dalam proses evaluasi, Pak Usman menemukan bahwa sebagian siswa masih kesulitan membedakan antara hadis sahih, hasan, dan dha'if, serta belum mampu mengaplikasikan kaidah-kaidah takhrij hadis dengan benar. Ia menyadari perlunya menguraikan materi ajar tentang macam-macam hadis secara lebih sistematis dalam evaluasi tujuan pembelajaran. Pak Usman berencana menggunakan berbagai instrumen evaluasi yang dapat mengukur pemahaman siswa tentang klasifikasi hadis berdasarkan kualitas sanad dan matan, serta kemampuan mereka dalam menganalisis keotentikan suatu riwayat hadis sesuai dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing peserta didik. Uraian materi ajar macam-macam hadis dalam evaluasi tujuan pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristik peserta didik adalah:

a)

Menyajikan evaluasi dengan fokus pada kemampuan siswa menghafal definisi-definisi hadis sahih, hasan, dan dha'if sesuai dengan terminologi yang terdapat dalam kitab-kitab ulum al-hadis klasik, kemudian meminta mereka menyebutkan contoh-contoh hadis dari setiap kategori tanpa analisis lebih lanjut.

b)

Mengembangkan evaluasi yang mengukur kemampuan siswa dalam menganalisis kualitas sanad dan matan hadis menggunakan kaidah-kaidah jarh wa ta'dil, mengklasifikasikan hadis berdasarkan tingkat keotentikannya, serta menjelaskan implikasi penggunaan setiap jenis hadis dalam penetapan hukum Islam.

c)

Merancang evaluasi dengan pendekatan kuantitatif yang menghitung jumlah hadis sahih, hasan, dan dha'if yang dapat disebutkan siswa dari kitab-kitab hadis tertentu, kemudian memberikan penilaian berdasarkan akurasi dan kelengkapan data yang mereka kumpulkan.

d)

Menyusun evaluasi yang menekankan pada kemampuan siswa dalam menceritakan kembali riwayat hidup para perawi hadis yang terkenal, mengidentifikasi guru dan murid mereka, serta menjelaskan kontribusi mereka terhadap perkembangan ilmu hadis secara naratif dan deskriptif.

e)

Mengorganisir evaluasi dengan fokus pada kemampuan siswa membuat perbandingan antara metodologi kritik hadis yang digunakan oleh ulama Sunni dan Syiah, menganalisis perbedaan kriteria penerimaan hadis, serta mengevaluasi implikasi perbedaan tersebut terhadap pemahaman Islam.

9.

Bu Khadijah mengajar di SMA Negeri 15 Jakarta dan sedang merencanakan pembelajaran tentang "Metode Tafsir Tematik" menggunakan pendekatan TPACK (Technology, Pedagogy, and Content Knowledge) untuk siswa kelas XI IPA. Dalam perencanaan pembelajaran, ia menghadapi tantangan untuk mengintegrasikan teknologi digital dengan pedagogi yang tepat dan konten materi tafsir yang mendalam. Bu Khadijah menyadari bahwa metode tafsir tematik memerlukan kemampuan siswa untuk menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an dari berbagai surat yang memiliki tema serupa, yang membutuhkan alur pembelajaran yang logis dan sistematis. Ia berencana menggunakan aplikasi digital untuk membantu siswa dalam mencari, mengorganisir, dan menganalisis ayat-ayat bertema sama, sambil tetap memperhatikan kaidah-kaidah tafsir yang sahih. Dalam konteks Kurikulum Merdeka yang menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa, Bu Khadijah perlu menentukan alur materi ajar yang dapat memfasilitasi siswa untuk memahami metode tafsir tematik secara komprehensif sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajar mereka. Alur materi ajar metode tafsir tematik dalam perencanaan tujuan pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristik peserta didik adalah:

a)

Memulai dengan pengenalan aplikasi digital untuk pencarian ayat, dilanjutkan dengan latihan menghafal ayat-ayat pilihan, kemudian menggunakan teknologi untuk membuat presentasi tentang tema-tema tertentu tanpa analisis mendalam tentang kaidah-kaidah tafsir yang mendasarinya.

b)

Mengawali dengan pemahaman konsep dan kaidah tafsir tematik, mengintegrasikan teknologi untuk eksplorasi ayat-ayat bertema sama, menerapkan metode analisis dengan bimbingan guru, dan menghasilkan karya tafsir tematik sederhana dengan memanfaatkan platform digital kolaboratif.

c)

Memfokuskan pada penggunaan software tafsir untuk mengakses berbagai kitab tafsir klasik dan kontemporer, kemudian meminta siswa membandingkan penafsiran yang berbeda tanpa memahami metodologi dan kaidah-kaidah yang mendasari setiap pendekatan tafsir tersebut.

d)

Mengarahkan siswa untuk menggunakan mesin pencari internet dalam mencari ayat-ayat Al-Qur'an berdasarkan kata kunci tertentu, kemudian menyusun kumpulan ayat tanpa memperhatikan konteks, asbabun nuzul, dan keterkaitan antar ayat dalam satu tema.

e)

Mengorganisir pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk membuat video presentasi tentang tema-tema dalam Al-Qur'an menggunakan teknologi editing video, dengan menekankan pada aspek kreativitas dan estetika daripada kedalaman analisis tafsir.

10.

Pak Yusuf adalah guru Qur'an Hadis di MA Negeri 3 Palembang yang sedang melaksanakan pembelajaran tentang "Konsep Tawassuth dalam Al-Qur'an dan Hadis" menggunakan pendekatan Deep Learning (DL) untuk siswa kelas XII IPS. Dalam pelaksanaan pembelajaran, ia mengamati bahwa siswa perlu mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang konsep moderasi dalam Islam, tidak hanya sebatas definisi tetapi juga aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Pak Yusuf menyadari bahwa konsep tawassuth memiliki dimensi yang kompleks dan memerlukan analisis yang mendalam untuk dapat dipahami secara utuh. Ia merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi berbagai aspek tawassuth, mulai dari landasan teologis, implementasi historis, hingga relevansinya dengan konteks kekinian. Dalam pendekatan Deep Learning, Pak Yusuf perlu menentukan alur materi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai pemahaman yang mendalam dan bermakna tentang konsep tawassuth, sesuai dengan karakteristik peserta didik yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang beragam. Alur materi ajar tentang konsep tawassuth dalam Al-Qur'an dan Hadis pada pelaksanaan tujuan pembelajaran yang paling sesuai dengan karakteristik peserta didik adalah:

a)

Menyajikan definisi tawassuth dari berbagai kamus bahasa Arab dan ensiklopedia Islam, kemudian meminta siswa menghafal ayat-ayat dan hadis-hadis yang berkaitan dengan konsep tersebut tanpa menganalisis makna dan implikasinya secara mendalam dalam konteks kehidupan.

b)

Mengembangkan pemahaman konseptual tentang tawassuth melalui analisis ayat dan hadis, mengeksplorasi implementasi historis dalam peradaban Islam, menganalisis relevansi dengan isu-isu kontemporer, dan memfasilitasi siswa untuk merumuskan aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari.

c)

Mengorganisir pembelajaran dengan fokus pada perbandingan konsep tawassuth dalam Islam dengan konsep serupa dalam agama-agama lain, kemudian meminta siswa membuat tabel perbandingan tanpa menganalisis keunikan dan kedalaman konsep tawassuth dalam perspektif Islam.

d)

Menyusun pembelajaran yang menekankan pada aspek linguistik kata "tawassuth" dalam bahasa Arab, menganalisis akar kata dan derivasinya, serta mempelajari penggunaan kata tersebut dalam literatur Arab klasik tanpa mengaitkannya dengan aplikasi praktis dalam kehidupan.

e)

Merancang pembelajaran dengan pendekatan sosiologis yang mengkaji fenomena ekstremisme dan radikalisme dalam masyarakat kontemporer, kemudian menghubungkannya dengan konsep tawassuth sebagai solusi tanpa memahami landasan teologis yang mendasarinya secara komprehensif.