NEW
Font size
WorksheetsSOAL UAS PENGANTAR FARMASI KLINIK KELAS III A,B DAN C
Total questions: 50
Worksheet time: 50mins
Seorang pasien mendapatkan terapi dengan karbohidrat, protein dan lemak yang diberikan secara parenteral. Bagaimana cara pemberian terapi tersebut?
Intra Vena
Sub cutan
Intra cutan
Intra muskuler
Intra peritoneal
Penggunaan nutrisi parenteral pada pasien dilakukan dalam kondisi……
Situasi saluran cerna dapat dilalui sebagian
Situasi saluran cerna berfungsi sebagian
Pasien gangguan saluran pencernaan
Pasien gangguan jantung
Pasien mual/muntah
Seorang pasien mendapatkan nutrisi parenteral. Apa efek tidak diharapkan yang dapat dialami pasien akibat pemberian nutrisi tersebut terlalu banyak/lama?
Emboli
Thrombosis vena
Infeksi karena kateter
Gangguan pernapasan dan hati
Masuknya gelembung udara ke pembuluh darah
Sebuah instalasi farmasi di rumah sakit melakukan produksi sediaan nutrisi parenteral, tim manakah yang berperan dalam menilai stabilitas dan ketercampuran sediaan nutrisi parenteral?
Dokter
Perawat
Farmasis
Ahli gizi
Pekerja sosial
Seorang pasien mendapat terapi nutrisi parenteral 25% yang diberikan melalui central venous. Apa tipe nutrisi parenteral tersebut?
Implanted catheter
Internal vena jugularis
Nutrisi parenteral sentral
Nutrisi parenteral perifer
Implanted vascular access device
Seorang pasien mendapat nutrisi parenteral yang diberikan melalui peripheral vena selama 5 hari dengan karbohidrat dan protein dalam konsentrasi kecil. Apa tipe nutrisi parenteral tersebut?
Implanted catheter
Internal vena jugularis
Nutrisi parenteral sentral
Nutrisi parenteral perifer
Implanted vascular access device
Jenis nutrisi parenteral yang digunakan dalam komposisi nutrisi parenteral untuk regenerasi sel, enzyme dan visceral protein adalah………..
Lipid
Protein
Karbohidrat
Vitamin
Glukosa
Alur pelayanan TPN disebutkan instalasi farmasi rumah sakit sebagai berikut: 1. Penyimpanan dan pemberian 2. Pemeriksaan dan labeling 3. Form permintaan TPN 4. Perhitungan penyiapan TPN 5. Pencampuran larutan TPN Manakah urutan pelayan TPN yang tepat?
A. 3-4-5-2-1
B. 3-5-4-1-2
C. 3-1-4-5-2
D. 3-2-4-5-1
E. 1-2-3-4-5
Pemberian obat iv admixture melalui rute IV dapat diberikan secara…….
Continuous infusion
Intra muscular
Intra peritoneal
Intra cutan
Sub cutan
Pemberian iv admixture dengan volume kecil 5 ml diberikan dalam waktu 3-5 menit disebut……
Infus
Injeksi
Infus kontinu
Injeksi bolus
Infus intermittent
Tujuan pemberian iv admixture adalah………
Digunakan pada pasien dengan luka bakar yang berat
Menyediakan cairan bagi tubuh melalui intravena
Mengencerkan larutan injeksi yang iritan
Mempertahankan kebutuhan nutrisi
Digunakan pada pancreatitis
Seorang farmasis akan melakukan penyimpanan larutan nutrisi yang telah dicampur. Bagaimana penyimpanan larutan tersebut?
Jalur/line TPN tidak perlu ditandai
Disimpan pada suhu 2-6 derajat celcius
Disimpan pada suhu kamar lebih dari 24 jam
Ambil 1 jam dari lemari es sebelum pemberian TPN
Ambil 4-6 jam dari lemari es sebelum pemberian TPN dan biarkan di suhu dingin
Seorang laki-laki 40 tahun mendapat terapi dengan obat captopril 12,5 mg tab diminum 3 x sehari 1 tab sebelum makan, setelah 2 hari mengkonsumsi obat tersebut ia mengalami batuk kering yang sangat mengganggu di waktu malam hari. Apakah sebutan untuk efek yang dialami pasien?
Adverse drug reaction
Drug interaction
Therapeutic failure
Overdose
Adverse event
Seseorang dikatakan mengalami adverse drug reactions jika mengalami respon terhadap suatu obat yang tidak diinginkan dan terjadi pada penggunaan dosis…..
Lazim
Lethal
Toxic
Minimum
Maksimum
Seorang anak 12 tahun diberikan Cefadroxil untuk pengobatan ISPA Non Pneumonia yang dialaminya. Pneumonia tersebut umumnya disebabkan oleh virus sehingga apa kategori ketidakrasionalan penggunaan obat tersebut?
Pemilihan obat yang tidak tepat
Dosis obat yang berlebihan
Rute pemberian obat yang salah
Waktu pemberian obat yang tidak sesuai
Gagal menerima obat
Seorang pasien datang ke apotek dengan keluhan batuk kering disertai pilek, TVF lalu memberikan obat Bodrex Flu dan batuk dengan kandungan Paracetamol, Phenylephrine HCl, Glyceryl Guaiacolate, Bromhexine HCl. Apa jenis DRPs yang terjadi?
Pemilihan obat yang tidak tepat
Dosis obat yang berlebihan
Interaksi obat yang berbahaya
Obat tidak tersedia di apotek
Gagal menerima obat
Seorang pasien bernama Siti, berusia 55 tahun, datang ke klinik dengan keluhan nyeri sendi yang parah, setelah pemeriksaan, dokter mendiagnosis Siti dengan osteoarthritis dan merekomendasikan terapi dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Namun, Siti menolak untuk menerima resep obat tersebut karena khawatir akan efek samping yang mungkin ditimbulkan. Apa jenis DRPs yang terjadi?
Gagal menerima obat
Dosis obat terlalu tinggi
Interaksi obat yang berbahaya
Obat tidak tersedia di apotek
Indikasi yang tidak diobati
Seorang pasien bernama Andi, berusia 28 tahun, datang ke rumah sakit dengan keluhan mual, pusing, dan kebingungan. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menemukan bahwa Andi telah mengonsumsi obat analgesik yang diresepkan untuk mengatasi nyeri punggung, dengan dosis 500 mg setiap 8 jam oleh dokternya. Andi mengira bahwa untuk mengatasi nyerinya, ia dapat mengonsumsi satu tablet setiap 4 jam, sehingga total dosis yang dikonsumsi mencapai 3000 mg dalam 24 jam. Apa diagnosis yang paling mungkin pada kasus Andi?
Over dosis
Pemilihan obat yang tidak tepat
Dosis subterapeutik
Indikasi yang tidak diobati
Reaksi obat yang merugikan
Menjamin pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dengan harga terjangkau dapat dilakukan dengan mengupayakan perbaikan dan intervensi. Yang termasuk upaya manajerial adalah
Pengendalian kecukupan obat
Keleluasaan sistem peresepan
Peningkatan mutu calon dokter
Keleluasaan dispensing obat
Keleluasaan pembiayaan
Menjamin pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dengan harga terjangkau dapat dilakukan dengan mengupayakan perbaikan dan intervensi. Yang termasuk upaya pendidikan adalah.......
Keleluasaan sistem peresepan
Penambahan jumlah dokter spesialis
Pengendalian kecukupan obat
Peningkatan mutu calon dokter
Keleluasaan pembiayaan
Seorang pasien dirawat di rumah sakit dan memerlukan akses vena untuk terapi cairan. Dokter mempertimbangkan jenis jalur, yaitu jalur perifer. Berikut adalah informasi terkait jalur tersebut: ..........
Ujung kateter tetap berada dalam vena sentral
Ujung kateter berada di arteri
Ujung kateter berada di bawah kulit tanpa masuk ke pembuluh darah
Larutan dengan osmolaritas >900 mOSm/L
Larutan dengan osmolaritas <900 mOsm/L
Apa definisi yang paling tepat dari IV Admixture?
Sediaan obat yang hanya digunakan untuk rute pemberian subkutan (di bawah kulit) yang telah dicampur dengan pelarut non-steril.
Campuran obat yang telah disiapkan sebelumnya dalam bentuk tablet atau kapsul untuk digunakan oleh pasien rawat jalan.
Pencampuran obat-obatan yang dilakukan di luar lingkungan steril, seperti di ruang perawatan pasien, untuk tujuan terapi segera.
Proses penggabungan satu atau lebih produk obat steril ke dalam larutan dasar intravena (IV) dengan teknik aseptik untuk diberikan kepada pasien.
Larutan infus yang dibeli dari pabrik farmasi yang hanya mengandung satu jenis elektrolit tanpa bahan tambahan obat lainnya.
Meskipun memiliki banyak manfaat, salah satu kerugian atau risiko terbesar yang harus diantisipasi secara ketat dalam proses pencampuran obat suntik adalah ..........
Meningkatkan risiko kontaminasi mikroba, ketidakstabilan kimia, dan inkompatibilitas fisik yang dapat berakibat fatal jika sediaan tidak disiapkan dalam kondisi aseptik yang ketat.
Meningkatkan efektivitas obat tanpa adanya efek samping.
Mempercepat proses penyembuhan tanpa risiko tambahan.
Menurunkan biaya produksi obat secara signifikan tanpa konsekuensi.
Proses pencampuran hanya dapat dilakukan untuk obat-obatan non-sitotoksik, membatasi penggunaannya untuk obat kanker.
Metode pemberian obat intravena (IV) yang paling umum digunakan untuk memberikan obat dalam waktu singkat (biasanya 5 hingga 15 menit), di mana obat ditambahkan ke dalam sejumlah kecil larutan infus sekunder, disebut sebagai:
Parenteral Nutrisi Total (Total Parenteral Nutrition/TPN)
Infus Intermiten (IV Piggyback/Mini-Bag)
Injeksi Intramuskular (IM)
Intravena Bolus (IV Push)
Infus Intravena Kontinu (Continuous IV Infusion)
Di antara peralatan dan kondisi berikut, manakah yang paling penting dan wajib ada untuk memastikan sterilitas mutlak selama proses penyiapan IV Admixture?
Sistem Informasi Manajemen Farmasi yang terintegrasi.
Sistem pendingin (kulkas) yang berfungsi untuk menyimpan semua obat pada suhu 2oC hingga 8oC.
Sarung tangan lateks non-steril dan masker bedah biasa.
Timbangan analitik digital yang memiliki akurasi sampai 0.0001 gram.
Ruangan khusus dengan tekanan positif dan menggunakan Laminar Air Flow (LAF) atau Biological Safety Cabinet (BSC) yang tervalidasi.
Pilih pernyataan yang paling tepat menjelaskan keuntungan utama dari sistem IV Admixture yang dilakukan secara terpusat dan terkontrol oleh farmasis di rumah sakit:
Memungkinkan perawat untuk meracik obat secara cepat di samping tempat tidur pasien, sehingga menghemat waktu.
Meningkatkan akurasi dosis, memastikan sterilitas produk, dan memperpanjang stabilitas obat, yang secara kolektif meningkatkan keamanan pasien.
Mengurangi biaya pengobatan secara keseluruhan karena semua obat dapat dibeli dalam bentuk massal.
Mengubah rute pemberian obat dari intravena menjadi oral agar lebih nyaman bagi pasien rawat jalan.
Menghilangkan kebutuhan akan monitoring interaksi obat oleh dokter karena semua sudah dicek oleh farmasis.
Berdasarkan informasi berikut, manakah dari gejala berikut yang tidak terkait dengan monitoring nutrisi parenteral? Seorang pasien berusia 65 tahun yang menerima nutrisi parenteral mengalami beberapa gejala yang perlu dimonitor. Selama perawatan, perawat mencatat beberapa tanda dan gejala yang muncul. Pasien melaporkan merasa mual, mengalami peningkatan rasa haus, dan menunjukkan tanda-tanda demam. Selain itu, hasil laboratorium menunjukkan kadar glukosa darah yang tinggi.
Infeksi
Hiperglikemia
Kolestasis
Gangguan pernafasan
Berat Badan bertambah
Seorang pasien perempuan berusia 21 tahun mengalami demam sehingga memerlukan obat antipiretik namun pasien menginginkan obat dengan bentuk sediaan sirup. Oleh TVF diberikan obat Sanmol forte sirup (paracetamol 250 mg/5 mL) dengan aturan pakai 3 dd 1 cth. Apa jenis DRPs yang terjadi?
Pemilihan obat yang tidak tepat
Dosis subterapeutik
Indikasi yang tidak diobati
Gagal menerima obat
Reaksi Obat Yang Merugikan
Seorang pasien bernama Andi, berusia 28 tahun, datang ke klinik dengan keluhan nyeri kepala yang sering terjadi. Setelah pemeriksaan, dokter menyarankan Andi untuk mencoba beberapa perubahan gaya hidup, seperti mengurangi stres dan meningkatkan hidrasi. Namun, Andi memutuskan untuk membeli obat analgesik (paracetamol) secara bebas tanpa berkonsultasi lebih lanjut. Apa jenis DRPs yang terjadi?
Penggunaan obat tanpa indikasi
Dosis subterapeutik
Indikasi yang tidak diobati
Over dosis
Reaksi Obat Yang Merugikan
Seorang pasien bernama Ahmad, berusia 50 tahun, menderita diabetes tipe 2 dan hipertensi. Ia memiliki jadwal pengobatan yang ketat dan rutin memeriksakan kondisinya ke dokter. Ahmad baru saja mendapatkan resep obat baru dari dokternya yang mencakup metformin untuk diabetes dan lisinopril untuk hipertensi. Namun, ketika sampai di apotek, ia diberitahu bahwa obat metformin yang diresepkan tidak tersedia. Apa jenis DRPs yang terjadi?
Dosis subterapeutik
Indikasi yang tidak diobati
Over dosis
Reaksi Obat Yang Merugikan
Gagal menerima obat
Seorang pasien bernama Andi, berusia 45 tahun, didiagnosis dengan hipertensi dan diabetes tipe 2. Dokter meresepkan Amlodipine - untuk menurunkan tekanan darah. Metformin - untuk mengontrol kadar gula darah. Simvastatin - untuk menurunkan kadar kolesterol. Setelah beberapa minggu menjalani pengobatan, Andi juga mengeluhkan mual yang kadang disertai pusing, terutama setelah mengonsumsi obat. Apa jenis DRPs yang terjadi?
Pemilihan obat yang tidak tepat
Dosis obat yang terlalu rendah
Interaksi obat yang merugikan
Kepatuhan pasien terhadap pengobatan rendah
Reaksi obat yang merugikan
Seorang farmasis sedang melakukan monitoring terhadap pasien yang baru saja memulai pengobatan dengan obat baru. Ia ingin memastikan bahwa pasien tidak mengalami efek samping yang serius. Apa tujuan utama dari monitoring efek samping obat dalam konteks ini?
Menemukan efek samping obat (ESO) sedini mungkin, terutama yang berat dan tidak dikenal, serta frekuensinya jarang.
Mengurangi biaya produksi obat secara signifikan.
Meningkatkan penjualan obat di pasaran.
Mempercepat proses distribusi obat ke apotek.
Meningkatkan efektivitas obat dengan menyesuaikan jadwal pemberian.
Seorang farmasis di sebuah rumah sakit menerima laporan dari seorang perawat mengenai seorang pasien yang mengalami efek samping setelah menerima pengobatan. Pasien tersebut adalah seorang lansia dengan riwayat penyakit jantung dan diabetes. Farmasis tersebut harus melakukan beberapa langkah untuk menangani situasi ini. Apa langkah pertama yang harus diambil dalam kegiatan monitoring efek samping obat untuk pasien ini?
Mengisi laporan Efek Samping Obat
Memberikan obat tambahan tanpa konsultasi dokter
Menghentikan semua pengobatan pasien secara langsung
Mengabaikan laporan dari perawat
Mengidentifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai risiko tinggi mengalami efek samping obat
Seorang tenaga kesehatan bernama Dr. Andi merawat seorang pasien yang baru saja mulai mengonsumsi obat antihipertensi. Setelah beberapa hari, pasien melaporkan mengalami pusing yang cukup parah dan mual. Dr. Andi merasa bahwa gejala ini mungkin merupakan efek samping dari obat yang diberikan. Kapan Dr. Andi sebaiknya melaporkan kejadian efek samping obat (ESO) yang dialami oleh pasien tersebut?
Segera setelah pasien melaporkan gejala pusing dan mual.
Setelah pasien sembuh total dari efek samping.
Hanya jika efek samping sangat parah dan mengancam jiwa.
Saat kunjungan berikutnya ke rumah sakit.
Ketika ada pasien lain yang mengalami gejala serupa
Seorang TVF menjelaskan kepada pasien mengenai penggunaan obat yang tepat. Apa yang dimaksud dengan penggunaan obat rasional?
Penggunaan obat berdasarkan pengalaman pribadi
Penggunaan obat tanpa resep dokter
Penggunaan obat secara sembarangan
Penggunaan obat sesuai dengan diagnosis dan kebutuhan pasien
Penggunaan obat hanya berdasarkan iklan
Dalam sebuah seminar, seorang ahli farmasi menjelaskan tujuan penggunaan obat rasional. Apa tujuan utama dari penggunaan obat rasional?
Meningkatkan keuntungan bagi farmasi
Mengurangi efek samping obat
Meningkatkan efektivitas dan keamanan terapi obat
Mempercepat proses perawatan pasien
Mempromosikan obat baru
Dalam sebuah seminar, seorang ahli farmasi menjelaskan tujuan penggunaan obat rasional. Yang bukan merupakan tujuan dari penggunaan obat rasional?
Untuk meningkatkan keuntungan farmasi
Untuk mengurangi efek samping obat
Untuk meningkatkan efektivitas dan keamanan terapi obat
Untuk mempercepat proses perawatan pasien
Untuk mempromosikan obat baru
Sebuah rumah sakit melakukan program edukasi untuk pasien tentang penggunaan obat. Apa upaya yang paling efektif untuk mengatasi penggunaan obat yang tidak rasional?
Meningkatkan jumlah obat yang tersedia
Mengadakan seminar tentang iklan obat
Menyediakan obat tanpa resep
Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai obat
Mengurangi biaya obat
Seorang pasien dengan diabetes tipe 2 diberi resep metformin, tetapi hanya meminum setengah dari dosis yang direkomendasikan. Apa yang mungkin terjadi jika pengobatan tidak dilakukan dengan tepat?
Kadar gula darah stabil
Terjadi komplikasi diabetes
Pasien merasa lebih sehat
Tidak ada perubahan pada kesehatan
Pasien tidak perlu kontrol gula darah
Seorang wanita hamil mendapatkan resep untuk suplemen zat besi. Namun, dokter hanya meresepkan suplemen selama 2 minggu, padahal seharusnya 3 bulan. Apa dampak yang mungkin terjadi akibat pemberian yang tidak memadai ini?
Kadar zat besi normal
Peningkatan energi
Tidak ada dampak kesehatan
Kesehatan janin terjaga
Anemia defisiensi besi
Seorang pasien bernama Budi datang ke klinik dengan keluhan batuk dan pilek yang sudah berlangsung selama tiga hari. Dokter yang menangani Budi memberikan resep yang berisi:
Antibiotik: Amoksisilin 500 mg, 3 kali sehari selama 7 hari.
Antihistamin: Cetirizin 10 mg, 1 kali sehari.
Obat Batuk: Dextromethorphan, 3 kali sehari.
Obat Penurun Demam: Paracetamol 500 mg, 3 kali sehari jika diperlukan.
Obat Herbal: Ekstrak Jahe, 2 kali sehari.
Setelah membaca resep tersebut, Anda mengamati bahwa Budi tidak memiliki gejala infeksi bakteri yang memerlukan antibiotik.
Pertanyaan: Apa kategori penggunaan obat yang dapat diidentifikasi dari kasus ini?
Penggunaan obat rasional
Peresepan berlebihan
Penggunaan obat sesuai indikasi
Penggunaan obat generik
Peresepan minimal
Seorang pasien bernama Budi datang ke klinik dengan keluhan batuk kering yang sudah berlangsung selama dua minggu. TVF memberikan obat ambroxol syrup. Setelah satu minggu, Budi kembali ke klinik karena batuknya tidak kunjung membaik. TVF kemudian meresepkan obat batuk yang mengandung dextrometorphan
Pertanyaan:
Kategori penggunaan obat yang tidak rasional adalah:
Penggunaan obat keras
Peresepan obat tanpa diagnosis yang jelas
Penggunaan obat generik yang tidak terstandarisasi
Penggunaan obat dengan dosis yang berlebihan
Peresepan obat yang tidak sesuai dengan pedoman terapi
Seorang pasien bernama Budi datang ke klinik dengan keluhan demam, batuk, dan nyeri tenggorokan. Dokter yang menangani Budi memutuskan untuk meresepkan beberapa obat sekaligus, yaitu:
Paracetamol 500 mg untuk demam
Amoxicillin 500 mg untuk infeksi
Salbutamol inhaler untuk sesak napas
Antihistamin untuk alergi
Ibuprofen 400 mg untuk nyeri
Pertanyaan:
Dari situasi di atas, kategori penggunaan obat yang ditunjukkan oleh peresepan dokter adalah:
Penggunaan obat rasional
Peresepan majemuk yang tidak sesuai indikasi
Penggunaan obat tunggal
Peresepan obat sesuai pedoman terapi
Penggunaan obat generik
Seorang pasien bernama Budi berusia 45 tahun datang ke klinik dengan keluhan nyeri kepala yang sudah berlangsung selama beberapa hari. Setelah pemeriksaan, dokter memberikan resep obat penghilang rasa sakit. Namun, Budi juga membawa beberapa obat yang dibeli tanpa resep, termasuk antibiotik dan obat herbal. Ia mengaku sering menggunakan obat-obatan ini untuk mengatasi berbagai keluhan, meskipun tidak semua sesuai dengan diagnosa yang tepat.
Pertanyaan:
Apa faktor yang paling mungkin mempengaruhi penggunaan obat yang tidak rasional oleh Budi?
Kurangnya pengetahuan tentang penggunaan obat yang benar
Pengaruh dari teman dan keluarga
Iklan obat di media massa
Akses mudah ke berbagai jenis obat
Semua pilihan jawaban benar
WHO menyusun indikator penggunaan obat rasional. apa saja yang termasuk indikator inti penggunaan obat rasional?
% pasien yang diterapi tanpa obat
% biaya untuk antibiotik
% biaya untuk suntikan
% pasien puas dengan pelayanan
Rerata jumlah item obat tiap resep
Apa yang dimaksud dengan farmakovigilans?
Proses pengembangan obat baru yang melibatkan uji klinis.
Pengawasan dan penilaian efek samping obat setelah diluncurkan ke pasar.
Teknik untuk meningkatkan efektivitas obat melalui modifikasi dosis.
Metode untuk mengurangi biaya pengobatan di rumah sakit.
Proses edukasi pasien mengenai penggunaan obat yang benar.
Seorang TVF sedang menjelaskan kepada seorang mahasiswa farmasi tentang pentingnya monitoring efek samping obat. Dalam penjelasannya, TVF tersebut menyatakan bahwa monitoring efek samping obat adalah proses yang sangat penting untuk memastikan keamanan pasien selama pengobatan. Mahasiswa tersebut kemudian bertanya, "Apa sebenarnya yang dimaksud dengan monitoring efek samping obat?"
Proses untuk menentukan dosis obat yang tepat bagi pasien.
Proses pemantauan dan evaluasi efek samping yang ditimbulkan oleh obat selama terapi.
Proses pengujian obat baru di laboratorium sebelum dipasarkan.
Proses untuk menghentikan penggunaan obat jika terjadi reaksi alergi.
Proses pembuatan laporan mengenai semua obat yang digunakan oleh pasien.
Seorang apoteker di rumah sakit menerima laporan dari perawat bahwa seorang pasien yang sedang dirawat mengalami reaksi alergi setelah mendapatkan obat antibiotik baru. Apoteker tersebut bertanggung jawab untuk melakukan monitoring efek samping obat.
Pertanyaan:
Apa tahapan terakhir dalam kegiatan monitoring efek samping obat ini?
Mengisi laporan efek samping obat
Mengidentifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai risiko tinggi mengalami efek samping
Mengevaluasi laporan efek samping obat
Melaporkan ke pusat monitoring efek samping obat nasional
Menghubungi dokter untuk mengganti obat pasien
Seorang pasien berusia 65 tahun datang ke rumah sakit setelah mengalami pusing dan mual setelah mengkonsumsi obat antihipertensi baru selama satu minggu. Pasien sebelumnya tidak memiliki riwayat pusing atau mual. Dokter curiga bahwa gejala ini mungkin merupakan efek samping dari obat yang baru diberikan.
Pertanyaan:
Apa yang perlu dilaporkan oleh dokter terkait kejadian ini?
Hanya efek samping yang sudah diketahui dari obat tersebut.
Semua kejadian yang dicurigai sebagai efek samping, baik yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui hubungan kausalnya.
Hanya kejadian yang terjadi pada pasien yang berusia di atas 60 tahun.
Hanya kejadian yang menyebabkan rawat inap pasien.
Hanya efek samping yang terjadi setelah penggunaan obat selama lebih dari satu bulan.
Apa langkah pertama yang harus Anda lakukan untuk melaporkan efek samping obat secara online?
Menghubungi dokter yang meresepkan obat tersebut.
Mencari informasi lebih lanjut tentang efek samping obat di internet.
Mengunjungi situs https://e-meso.pom.go.id/ untuk mengisi formulir laporan.
Menunggu sampai efek sampingnya hilang sebelum melaporkan.
Mengabaikan efek samping karena merasa tidak terlalu serius.
